Book Report Pendidikan IPS dan Konsep Pembelajaran
A. Pendahuluan
Dalam
Book Report ini, penulis melaporkan dan menganalisa buku yang berjudul “Pendidikan IPS” dan Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Buku
Pendidikan IPS ini ditulis oleh Prof.
Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., dan buku Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran ini ditulis oleh Prof. Dr. Sapriya, M.Ed.
Buku
Pendidikan IPS ini diterbitkan pada bulan September 2016 (cetakan kedua).
Ukuran buku ini adalah 14,8 cm x 21 cm dan berisi 15 sub bab. Buku ini terdiri
dari 393 halaman yang diterbitkan oleh Mediakom Indonesia Press Bali, di Jalan
Wijaya Kusuma V/5 Singaraja Bali, dengan telepon (0362) 7027512/081236795588,
serta alamat e-mail: tpimediakom@gmail.com,
selanjutnya buku Pendidikan IPS
Konsep dan Pembelajaran di terbitkan oleh: PT Remaja Rosdakarya, Cetakan: 8,
November 2017, Ukuran: 16x24 cm, Kertas isi:HVS 70 gr, Kertas sampul: AC 210
gr, Halaman: 230 Halaman, ISBN: 979-692-957-0, Email: rosdakarya@rosda.co.id.
Hak
cipta ke 2 buku itu juga dilindungi Undang-Undang untuk menanggulangi
pembajakan atau penjualan ilegal sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam
bentuk apapun secara elektronikmaupun mekanis tanpa izin tertulis dari
penerbit.
Pendidikan IPS ditulis
oleh Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd.
B.
Uraian Singkat
1.
Bab I “Kebijakan
Kurikulum IPS”
Pada
bab I ini, dijelaskan bahwa perubahan dan perkembangan zaman menimbulkan
persoalan sosial pada diri manusia. Untuk mengatasi permasalahan sosial yang
semakin kompleks tersebut, tidak cukup dengan pendekatan keilmuan tunggal,
melainkan dengan pendekatan keilmuan secara mulidisipliner. Penyiapan generasi
muda yang berkarakter dan memiliki kepekaan sosial sangat diperlukan. Dalam
upaya mewujudkan hapan itu, sekolah mengadakan pembinaan tentang
masalah-masalah sosial melalui program social studies.
Di
dalam bab ini juga membahas mengenai hal-hal yang perlu dicermati dalam
pelaksanaan kurikulum tahun 2006 (KTSP). Ada 8 upaya yang perlu dicermati dalam
pelaksanaan standar isi IPS yaitu Sosialisasi Kurikulum, Dokumen, Penyusunan
Program Silabus dan RPP, Struktur Program, Strategi Pembelajaran, Penilaian,
Sarana Pembelajaran, dan Kulaifikasi Guru. Juga dijelaskan ada beberapa
landasan filosofis pengembangan kurikulum IPS yaitu essensialisme,
perenialisme, progresivisme, dan rekontruktivisme. Untuk melihat perkembangan
psikologi siswa ada 2 teori yang disebutkan, yakni Teori Piaget (proses
perubahan skema terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi) dan Teori
Bruner (ada tiga tahapan berpikir yaitu enactive, iconic, dan symbolic).
2.
Bab II “Sejarah Dan
Kawasan Pendidikan IPS”
Pada
bab II ini, dijelaskan bahwa untuk pertama kalinya di Rugby (Inggris) IPS
dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah pada tahun 1827 dengan nama “social
studies” yang kemudian berkembang di Indonesia seiring dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan baik pada tingkatan dasar, menengah, dan perguruan tinggi.
Selain itu dijelaskan pula mengenai Kawasan Pendidikan IPS, yang menyatakan
bahwa IPS merupakan penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan pendidikan (Somantri,
2001:92). Di dalam kurikulum standar NCSS untuk tingkat sekolah kelas 1 s/d 12
dinyatakan bahwa ruang lingkup kurikulum IPS meliputi 10 pokok tema (Culture;
Time, continuity, and change; People, places, and environment; Individual,
development, and identity; Individual, groups, and institution; Power,
outhority, and governance; Production, distribution, and consumtion; Science,
technology and society; Global connections; Civic ideals and practices).
Sedangkan di Perguruan Tinggi terdapat 7 pokok tema yaitu Pendidikan IPS
Terpadu, Pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Sejarah,
Pendidikan Sosiologi-Antroplologi, dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Pada
bab ini juga dijelaskan mengenai karakteristik Pendidikan IPS yang meliputi 3
rincian yaitu: a) Pendidikan IPS mempunyai tujuan utama untuk membentuk warga
negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang demokratis. b)
IPS membantu siswa dalam mengkonruksi pengetahuan akademik sebagai suatu
pengalaman khusus. c) IPS mencerminkan perubahan pengetahuan, mengembangkan
sesuatu yang baru dan menggunakan pendekatan terintergrasi untuk memecahkan isu
secara manusiawi. Beberapa istilah terkait IPS yaitu Social sciences, Social
education, dan Social science education. Disebutkan pula bahwa tujuan utama
pendidikan IPS adalah mempersiapkan siswa sebagai warga negara agar dapat
mengambil keputusan secara reflektif.
3.
Bab III “IPS Sebagai
Kegiatan Keilmuan”
Pada
bab III ini, dijelaskan tentang bagaimana pentingnya IPS sebagai suatu kegiatan
keilmuan. Dimana di dalamnya dibahas mengenai kesalahpahaman dari masyarakat
yang menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat untuk merekontruksi sikap serta
perilaku masyarakat. Sekolah bertugas melakukan pendidikan keilmuan, dalam arti
mendidikkan sikap ilmiah sekaligus mengajarkan ilmu pengetahuan. Juga
dijelaskan sejarah perkembangan ilmu-ilmu Pendidikan IPS di Amerika Serikat,
mulai dari lahirnya Amerika Serikat hingga tumbuh dan berkembangnya Pendidikan
IPS di lembaga-lembaga pendidikan Amerika Serikat. Selain perkembangan IPS di
Amerika Serikat, bab ini juga memaparkan perkembangan IPS di Indonesia, yaitu
dari hadirnya manusia purba (Homo Wajakensis) sebagai asal-usul mula lahirnya
kebudayaan di Indonesia dan terus berkembang. Dimana perkembangannya itu masih
ada keterkaitan dengan Amerika Serikat, itu terbukti dengan adanya perbandingan
sistem pembelajaran antara Indonesia dan Amerika Serikat. Seperti selama 70-80 tahunan
(sejak lahirnya IPS 1916) di Amerika Serikat telah berkembang 4 jenis IPS yaitu
IPS gaya lama, IPS progresivisme, social science education, dan IPS gaya baru.
Sedangkan selama 40 tahun pasca kemerdekaan, sekolah-sekolah di Indonesia baru
melaksanakan jenis IPS gaya lama dan IPS progresivisme.
4.
Bab IV “Pendidikan
IPS: Isu Dan Harapan”
Secara
garis besar, bab IV ini mengulas tentang Pendidikan IPS dalam melakukan
perubahan pada masyarakat. Dalam ulasan ini ada rasional pembahasan dan tawaran
konsep-aplikatif yang lebih banyak dimaksudkan kepada mereka yang meyakini
keberbedaan hak dari setiap individu serta kemampuan personal yang holistik.
Filosofi pada buku ini bahwa kurikulum harus relevan dengan keinginan, hidup,
dan kebutuhan peserta didik secara alamiah. Sebagai seorang pembelajar harus
membelajarkan siswanya menjadi pemimpin dunia di masa mendatang melalui
pembelajaran IPS. Sebagai sebuah laboratorium pendidikan warga negara, IPS
selayaknya menekankan pada cara-cara membelajarkan pebelajar untuk berpartisipasi
aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang demokratis.
Pada
bab ini juga diulas bahwa ada beberapa model pembelajaran yang dikembangkan
dalam pembelajaran IPS yaitu the disclipinary model, the multydisclipinary
model, cityzenship education, the problem inquiry model, dan the humanistic
model.
5.
Bab V “Tujuan Dan
Tradisi Pembelajaran IPS”
Dalam
bab V ini dibahas mengenai tujuan dan tradisi pembelajaran IPS. Dimana
pendidikan IPS merupakan padanan dari Social Studies dalam konteks kurikulum di
Amerika Serikat. Untuk skala Indonesia, tujuan IPS adalah agar peserta didik
mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi
dirinya dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994:93). Pola pembelajaran IPS
di SD hendaknya lebih menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan
pemahaman, nilai-moral, dan keterampilan-keterampilan sosial pada siswa.
Dikaitkan
dengan pengembangan berpikir rasional, dalam kegiatan intruskional, dikenal
pula beberapa model pembelajaran IPS yang lebih menekankan pada pengembangan
dan peningkatan kemampuan berpikir ilmiah dan kreatif sebagaimana layaknya
ilmuwan sosial. Di dalam tradisi pembelajaran IPS di Indonesia, ada beberapa
model pendekatan pengorganisasian materi yang dikenal seperti pendekatan
integrasi pada jenjang sekolah dasar, pendekatan korelasi pada jenjang SLTP,
dan pendekatan sparated pada jenjang SMU. Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa model yang dikembangkan dan diteliti oleh para pakar
berkaitan dengan pengembangan intelektual dan peningkatan perolehan belajar
peserta didik dalam pembelajaran IPS. Namun, belum banyak yang menyentuh
bagaimana upaya meningkatkan literasi sosial-teknologi peserta didik dalam
pembelajaran IPS. untuk itu, perlu dilakukan penelitian untuk memfokuskan pada
upaya pengembangan model belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan dan
literasi sosial-teknologi, pemahaman materi, dan keterampilan sosial peserta
didik dalam pembelajaran IPS.
6.
Bab VI “Kompetensi
Pendidikan IPS”
Dalam
bab VI ini, dipaparkan bahwa lahirnya kompetensi sejalan dengan terjadinya
perubahan sosial budaya dari masyarakat dan budaya agraris ke masyarakat dan
budaya industri atau teknologi. Kompetensi-kompetensi dasar IPS SD yang
dirumuskan pada bab ini mencakup tiga dimensi pengembangan, yaitu (1)
kompetensi-kompetensi personal, (2) kompetensi-kompetensi sosial, dan (3)
kompetensi-kompetensi intelektual.
Untuk
membangun kompetensi personal siswa, ada beberapa sub-kompetensi yang harus
diakomodir dan dikembangkan yaitu kompetensi sikap obyektif terhadap diri
sendiri, kompetensi aktualisasi diri, kompetensi kreativitas diri, kompetensi
penghayatan nilai dan sikap keberagaman. Sedangkan pada kompetensi sosial, ada
sejumlah kompetensi dasar sosial yang perlu dimiliki dan dikuasai oleh siswa SD
sebagai makhluk sosio-kultural adalah kompetensi dan kesadaran atas tata krama,
kompetensi berkomunikasi, kompetensi interaksi sosial, kompetensi bekerjasama,
kompetensi sikap prososial atau altruism, kompetensi partisipasi sosial, dan
kompetensi kesadaran terhadap keberbedaan. Dan kompetensi-kompetensi
intelektual yang harus dimiliki dan dikembangkan pada diri siswa SD adalah
kemampuan berpikir kritis reflektif, kompetensi berpikir kontekstual,
kompetensi berpikir pragmatis, keterampilan geografis, pemahaman dan kesadaran
tentang waktu, logika, serta pemahaman kesejarahan.
7.
Bab VII “Pola Pengorganisasian Materi
Pendidikan IPS”
Pada
bab VII ini dibahas mengenai pola pengorganisasian materi pendidikan IPS.
Dilihat dari perspektif siswa, kelemahan utama kurikulum esensialistik terletak
pada pandangan bahwa siswa hanya diperankan sebagai passive recivient terhadap
realitas dan kebenaran yang secara ontologis berada di luar dirinya.implikasi
dari kondisi tersebut adalah pembelajaran IPS kurang diminati siswa. Dalam bab
ini juga dibahas konteks rekontruksi pola organisasi materi IPS sekolah dasar
berdasarkan perspektif kontruktivisme personal, interpersonal, dan sosiologi
mencakup: 1) konteks personal siswa, 2) konteks interpersonal/sosiokultural
siswa, serta 3) konteks sosial, kultural, dan historikal masyarakat.
Diulas
juga bahwa pola perkembangan organisasi menurut Piaget mengikuti prinsip
sirkularitas atau siklus berjenjang sejalan dengan tahapan perkembangan
personal siswa, atau menurut Vygotsky mengikuti prinsip saling kerjasama,
saling mendukung, dan saling memediasi di antara fungsi-fungsi psikologis
melalui mekanisme internal atau intra-psikologis (kontruktivisme personal),
mekanisme interpersonal, interpsikologis, dan melalui mekanisme eksternal atau
sosiologis. Secara paragdimatik, isi kurikulum IPS SD dipandang memiliki sebuah
pola organisasi dan struktur, apabila tercipta dalam bentuk sebuah relasi
sistemik yang saling berkaitan penuh makna diantara satu bagian materi dengan
bagian materi yang lain, hingga membangun sebuah totalitas atau kesatuan bidang
materi. Kurikulum sebagai pola pengaturan pengalaman belajar bermakna harus
memberikan peluang besar kepada siswa untuk melakukan aktivitas
pengorganisasian diri dan pengaturan diri.
Berdasarkan
kajian dan temuan empiris, simpulan yang dapat dibuat bahwa ada dua kontribusi
penting pemikiran Vygotsky yang bisa digunakan sebagai pijakan dalam
rekontruksi struktur isi kurikulum IPS Sekolah Dasar, yaitu 1) bahwa hakekat struktur
isi kurikulum adalah sosiokultural, 2) bahwa struktur isi kurikulum harus
menjadi sebagai alat-alat psikologis yang mampu memediasi dan menjembatani
kemungkinan bekerjanya fungsi-fungsi psikologis yang terdapat pada diri siswa.
Pertimbangan utama rekontruksi struktur isi kurikulum IPS SD tetap ditekankan
pada tingkat keterkaitan dengan struktur substantif, sintaktik, dan normatif
yang sudah siswa miliki.
8.
Bab VIII “Berpikir
Kritis Dalam Pembelajaran IPS”
Pada
bab ini, dibahas tentang berpikir kritis dalam pembelajaran IPS. intelegensi
dan kemampuan berpikir memiliki hubungan kausalitas level tinggi, sehingga
semakin tinggi kemampuan berpikir seseorang, makin tinggi pula intelegensi
orang tersebut. Pembelajaran IPS senantiasa mengandung kegiatan berpikir, namun
apabila tidak diprogramkan secara khusus, proses pendidikan berpikir itu akan
berdampak pada rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran, sehingga tidak
memadai untuk melatih seseorang mengembangkan kemampuan berpikirnya secara
optimal. Pengembangan iklim sekolah dan kelas yang menyenangkan akan menggugah
kreativitas siswa dalam berpikir. Pembelajaran berpikir kreatif akan
mengkondisikan siswa untuk memahami masa lalu dan menyiapkan diri menyambut
masa depan.
Untuk
meningkatkan kemampuan berpikir, kalangan pembelajar dapat menggunakan kemajuan
teknologi, seperti penggunaan komputer, jaringan telekomunikasi terpadu. Dengan
fasilitas ini, pebelajar akan dapat mengasah dan meningkatkan kemahiran dan
kelincahan intelektualnya selama proses pembelajaran berlangsung. Kemajuan
teknologi bukan semata-mata untuk memudahkan guru dalam mengajar. Kalangan
pembelajar dituntut untuk peka dan atisipatif terhadap perkembangan teknologi,
mengingat social studies merupakan disiplin ilmu yang merasuk dalam setiap hati
nurani masyarakat, yang mana prinsip-prinsipnya merupakan keseharian masyarakat
itu sendiri. Mengingat perkembangan masyarakat global yang sangat dinamis, yang
menuntut kemampuan dan keterampilan berkomunikasi, ada banyak metode
pembelajaran yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan keterampilan siswa
dalam berkomunikasi, salah satunya yaitu diskusi kelompok.
Dalam
bab ini juga diulas bahwa melalui asesmen pembelajar dapat menilai potensi diri
dan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan perkembangan belajar siswa
dalam setiap pembelajaran.
9.
Bab IX “Pendidikan
Nilai Dalam Pembelajaran IPS”
Dalam
sub bab ini, dijelaskan tentang pendidikan nilai sebagai sebuah proses
transaksional yang melibatkan seperangkat piranti sosial budaya dan ideologi kebangsaan
dirasakan semakin penting dalam memasuki era globalisasi saat ini.Realitas di
lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran afektif dalam IPS telah diredusir ke
arah transformasi pengetahuan dalam bentuk gifted. Implikasinya, pendidikan
nilai direduksi menjadi pengajaran nilai yang gersang dari nilai itu sendiri. Pada
bab ini juga, Lasmawan (2006) yang
menyatakan bahwa pembelajaran pendidikan IPS pada jenjang sekolah menengah
bersifat integrated, sehingga materi yang dibelajarkan dalam pendidikan IPS merupakan
akumulasi dari sejumlah disiplin ilmu sosial. Acuan pengembangan model
pendidikan nilai yang selama ini diaplikasikan dalam pendidikan IPS lebih
cenderung menekankan pada pemahaman materi dan cenderung mengabaikan aspek
nilainya.
10. Bab X “Pendidikan Multikultur Dalam Pembelajaran IPS”
Dalam
bab X ini, dibahas mengenai pendidikan multikultur dalam pembelajaran IPS.
seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki beraneka ragam kebudayaan.
Multikulturalisme merupakan paham yang mengakui perbedaan dan keberagaman dalam
suatu bingkai kebersamaan dan kesederajatan. Demokrasi merupakan salah satu
komponen yang menjamin bangunan multikulturalisme.dari semua itu, salah satu
media yang bermakna bagi pengembangan kesadaran akan multikulturalisme adalah
pendidikan IPS. Melalui pendidikan multikultur yang terintegrasi secara
holistik dalam mata pelajaran, dapat meningkatkan pemahaman dan pelatihan
keterampilan hidup dalam keberagaman kepada peserta didik, sehingga pada
saatnya nanti mereka mampu melakoni kehidupan bermasyarakat yang multikultur
dalam wadah negara kesatuan.
Menurut
Banks (1995) terdapat 5 model pendidikan multikultur yang berkembang yaitu
cultural difference, human relation, single group studies, reformasi
pendidikan, dan rekontruksi sosial. Selain itu juga terdapat 6 konsep umum
pengembangan pendidikan multikultur yaitu right to culture, kebudayaan
Indonesia yang holistik, konsep pendidikan multikultur normatif, rekontruksi
sosial, pendidikan multikultur di Indonesia memerlukan pedagogik baru, dan pendidikan
multikultur bertujuan untuk mewujudkan visi kebangsaan di masa depan serta
etika bangsa.pada bab ini juga menjelaskan tujuan dari pendidikan multikultur
menurut Rahardjo (2005) adalah 1) meningkatkan konsep dan pemahaman diri, 2)
meningkatkan sensitivitas terhadap orang lain dan masyarakat bangsa lain, 3)
meningkatkan pemahaman terhadap keberagaman, 4) meningkatkan kemampuan
mengambil keputusan berdasarkan analisis dan sistesis, 5) berpikir terbuka, 6)
meningkatkan pemahaman terhadap sejarah bangsa, 7) meningkatkan nasionalisme
dan pengahargaan terhadap bangsa lain. Dan juga ada beberapa model mengajar
yang visibel untuk dikembangkan dalam pendidikan multikultur yaitu Modelling,
Trials and errors atau Laisez fair, Values clarification technique, Conflict
resolution.Sementara itu Jannes (2011) menyatakan bahwa fokus pendidikan
multikultur dapat diarahkan pada 1) pembentukan karakter multikulturalisme
siswa through daily activities, 2) pelatihan hidup bersama dalam keberagaman
melalui sosiodrama and social fragmentation, 3) pembentukan jiwa tanggungjawab
dan ketertanggapan sosial dengan proyek kelas dan public study, 4) pelatihan
keterampilan sosial dan moral sosial melalui pengembangan sistem kerja
kooperatif dan learning by action, 5) pengembangan jiwa dan keterampilan
bertoleransi dan berdemokrasi melalui class discusion and social action.
11. Bab XI “Model Belajar Kooperatif”
Bab
ini membahas tentang model pembelajaran cooperative learning adalah salah satu
model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran.
Dikemukakan juga ada 6 keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa di
dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model cooperative learning.
Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif untuk
mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Dalam pengelolaan kelas
model cooperative learning ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni
pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas.
Dalam model pembelajaran cooperative learning ini ada 3 teori yang mendukungnya
diantaranya teori rekontruksi sosial Vygotsky, teori pembelajaran Piaget, teori
pembelajaran Ausubel. Disini juga diberikan beberapa catatan kepada
penyelanggara pendidikan, antara lain bagi guru, kepala sekolah, dan pengambil
kebijakan. Dan pada setiap akhir bahasan diberikan satu contoh model
pembelajaran cooperative yaitu model STAD yang bertujuan mendorong siswa
berdiskusi, saling membantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya
menerapkan keterampilan yang diberikan. Pendekatan STAD ada 5 langkah yaitu
persiapan, penyajian materi, tahap kerja kelompok, tahap tes individu, dan
tahap pengahargaan.
12. Bab XII “Model Pemecahan Masalah Dalam Konteks
Pembelajaran”
Pada
bab ini dijelaskan bahwa ada 4 prinsip dasar kontruktivisme mengenai
pengetahuan yaitu pengetahuan terdiri atas kontruksi-kontruksi masa silam,
pengkontruksian pengetahuan terjadi melalui asimilasi dan akomodasi, belajar
merupakan suatu proses organik dari penemuan yang lebih dari pada hanya sekedar
proses mekanik akumulasi, belajar bermakna terjadi melalui proses refleksi dan
resolusi konflik. Disebutkan juga ciri-ciri
proses aktif siswa dalam mengkontruksi pengetahuan. Selanjutnya ada pula
gaya kognitif dalam pembelajaran yang merupakan karakteristik individu dalam
merasakan, mengingat, berpikir, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Lasmawan (2004) memaparkan 5 tahapan strategi pemecahan masalah yang dapat
ditempuh dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi, yaitu visualisasi
masalah, mendeskripsikan masalah-masalah atau konsep, merencanakan solusi,
menyelesaikan rencana, mengecek dan mengkaji solusi. Gaya kognitif dalam
pembelajaran dibedakan menjadi 2 yaitu gaya kognitif field independent dan gaya
kognitif field dependent.
13. Bab XIII “Memperkuat Nilai Pendidikan IPS Melalui
Integrated Knowledge System”
Pada
bab XIII ini dibahas tentang cara untuk memperkuat nilai IPS melalui sistem
pengetahuan yang terintegrasi. Dikatakan bahwa pendidikan IPS (PIPS) harus
mampu memerankan dirinya sebagai media pembangunan dan pembentukanpeserta didik
sebagai warga Negara yang baik dan berkualitas. Kemudian dibahas pula mengenai
konsepsi antara pendidikanIPS dimana IPS
tersebut dikatakan terdiri dari dua konsepsi antara lain, konsepsi ilmu
dan pendidikan IPS, untuk dapat mengetahui konsepsi tersebut, dalam buku ini
telah dibedah secara baik agar dapat dimengerti dengan baik.Sehingga didapatkan
ada lima poin yang perlu mendapat perhatian,antara lain pendidikan sebagai 1)
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik, 2) kegiatan bimbingan, 3) kegiatan
pengajaran, 4) kegiatan pelatihan dan, 5) peran peserta didik. Selanjutnya dibahas
mengenai pendidikan IPS, disiplin ilmu-ilmu sosial, dan kemajuan IPTEK.
Kemajuan IPTEK yang telah yang menghadirkan warna terdiri dalam esensi PIPS
sebagai disiplin keilmuan.
14. Bab XIV “Inovasi Pembelajaran IPS”
Pada
bab ini dibahas mengenai inovasi dalam konteks keharusan. Dimana inovasi
pendidikan akan sangat baik jika dilakukan oleh ujung tombak keberhasilan
pendidikan itu sendiri, yaitu guru. Bab ini juga menjelaskan bahwa seorang guru
harus mampu melakukan berbagai variasi pembelajaran, sesuai dengan
karakteristik, materi, kebutuhan belajar peserta didik, lingkungan belajar, dan
target pencapaian dari pembelajaran itu sendiri, dan untuk mencapai hal
tersebut salah satu kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang
guru adalah kompetensi inovatif. Pentingnya sebuah inovasi dalam pembelajaran,
permasalahan yang akan timbul jika tidak dilakukan inovasi pembelajaran.
15. Bab XV “Pembelajaran IPS Dan Pembangunan SDM Prima”
Pada
sub bab terakhir ini dijelaskan bahwa disajikan rasional pentingnya belajar dan
menuntut ilmu pengetahuan sesuai dengan tujuan yang termuat dalam konstitusi
negara Indonesia. Juga diulas mengenai sistem pendidikan, dimana sistem
pendidikan nasional harus mampu mengakomodasikan aspek-aspek religio mental
yang berbasiskan nilai-nilai keagamaan dan nilai budaya bangsa. Dalam rangka
mengoptimalkan konsepsi sistem pendidikan nasional, kran partisipasi masyarakat
harus dibuka lebar mulai dari penyusunan kurikulum hingga pelaksanaan
pembelajaran di masing-masing jenjang sekolah. Setelah adanya konsep, tentu
akan ada aplikasinya. Disini dijelaskan, dalam aplikasinya sistem pendidikan
nasional kurang berhasil, yang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu aspek
akademik, aspek religio mental dan aspek ketenagakerjaan.
C.
Komentar Penulis
Berdasarkan
penjelasan singkat dari setiap sub bab mengenai buku Pendidikan IPS, penulis
memberikan beberapa komentar, diantaranya:
1.
Secara teoritis, isi
buku ini dapat dipahami dengan baik karena penyusunan katanya yang cukup jelas
dalam menyampaikan suatu gagasan atau ide.
2.
Secara umum, dalam
pengembangan pembelajaran pendidikan IPS di SD, diperlukannya peran dari guru
maupun siswa, agar apa yang menjadi tujuan Pendidikan IPS dapat tercapai.
Pendidikan
IPS Konsep dan Pembelajaran ditulis oleh Prof. Dr. Sapriya, M.Ed.
A.
Hakikat Pendidikan IPS
Hakikat
Pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) adalah kajian tentang manusia dan
lingkungannya dimana kehidupan manusia merupakan suatu dinamika yang tidak
pernah berhenti dan selalu aktif. Dinamika yang menggabungkan manusia dengan
sesamanya dan dengan lingkungannya sebagai ungkapan jiwa bahwa manusia sebagai
makhluk yang berakal budi dan juga sebagai makhluk sosial.
Pada
dasarnya, hakikat manusia itulah yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya. Manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis, melainkan juga sebagai
makhluk yang berinteraksi dengan aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum,
dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut menghasilkan ilmu pengetahuan sosial (IPS)
dan berkembang menjadi disiplin ilmu sesuai dengan perkembangan masyarakat
seperti ilmu ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, dan
sebagainya.
Sebagai
makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dalam
kehidupannya manusia harus menghadapi tantangan-tantangan yang berasal dari
lingkungannya maupun sebagai hidup bersama. Ilmu Pendidikan Sosial (IPS)
melihat bagaimana manusia hidup bersama dengan sesamanya, dengan tetangganya
dari lingkungan dekat sampai yang jauh. Bagaimana keserasian hidup dengan
lingkungannya baik dengan sesama manusia maupun lingkungan alamnya. Bagaimana
mereka melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain
bahan kajian atau bahan belajar IPS adalah manusia dan lingkungannya sebagai
hakikat pendidikan IPS.
B.
IPS dan Ilmu Sosial
Pengertian
Ilmu Sosial (IPS). Istilah IPS di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1970-an
sebagai hasil kesepakatan komunitas akademik dan secra formal mulai digunakan
dalam sistem pendidikan nasional dalam kurikulum 1975. Dalam dokumen kurikulum
tersebut ips merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada
jenjang pendidikan dasar dan menengh. Mata pelajaran IPS merupakan sebuah nama
mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi
serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya.
IPS
sebagai bidang studi memiliki garapan yang dipelajari cukup luas.Bidang
garapannya itu meliputi gejalag–gejala dan masalah kehidupan manusia di
masyarakat.Tekanan yang dipelajari IPS berkenaan dengan gejala dan maslah
kehidupan masyarakat bukan pada teori dan ilmuannya, melainkan pada kenyataan
kehidupan kemasyarakatan.Dari gejala dan masalah sosial tadi telah ditelaah,
dianalisis faktor-faktornya sehingga dapat dirumuskan jalan pemecahannya.
Untuk
lebih memahami Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial menurut para Ahli sebagi
sberikut :
1.
Somantri menyatakan
IPS adalah penyederhanaan atau disiplin ilmu ilmu sosial humaniora serta
kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
2.
Mulyono Tj.
(1980:8)berpendapat bahwa IPS adalah suatu pendekatan interdisipliner
(inter-disciplinary approach) dari pelajaran ilmu-ilmu soial, seperti sosiologi
antropologi budaya, psikologi sosial,sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan
sebagainya.
3.
Saidiharjo
(1996:4) menyatakan bahwa IPS merupakan
kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran
seperti:geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, politik.
4.
Moeljono
Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan
interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang
ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi,
ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan
instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah
dipelajari.
5.
Nu’man Soemantri menyatakan
bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk
pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti:
a.
Menurunkan tingkat
kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi
pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah dasar dan
lanjutan,
b.
Mempertautkan dan
memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga
menjadi pelajaran yang mudah dicerna.
6.
S. Nasution
mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah
mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah
yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas
berbagai subjek sejarah,ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan
psikologi sosial.
7.
Tim IKIP Surabaya
mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi yang menghormati, mempelajari,
mengolah, dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human
relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya.
Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang
telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah
sekolah.
Dalam
bidang pengetahuan sosial terutama di negara-negara yang berbahasa inggris
dikenal dua istilah, yakni Social Sciences atau ilmu sosial dan Social Studies
atau Studi Sosial. Jika kedua istilah ini dihadapakan satu sama lain secara
sepintas kita akan melihat perbedaan dan persamaannya.
Achmad
Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah
sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial
yang bertaraf akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruantinggi,
makin lanjut makin ilmiah”.
Menurut
Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual
yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada
manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia
bentuk.
Nursid
Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku
kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosialadalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
Dari
ketiga pendapat tokoh di atas dapat kami simpulkan bahwa Ilmu Sosial merupakan
cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia baik
dalam individu maupun berkelompok dan terdiri dari disiplin-disiplin ilmu yang
bertaraf akademis. Istilah social studies
mulai di kenal di Amerika Serikat sekitar tagun 1913. Nama ini secara
resmi dipergunakan oleh suati komisi pendidikan.Yaitu social studies committee
of the commission of the Reorganization of secondary education (engle,
1971).Komisi ini bertugas untuk merumuskan dan membina kurikulum sekolah untuk
mata pelajaran sejarah dan geografi dan komisi inilah yang memberikan nama resmi
kepada kurikulum sekolah untuk kedua mata pelajaran tersebut. Dengan demikian,
mulailah namasocial studies secara resmi dipergunakan untuk kurikulum sekolah
yang materi pokoknya pada waktu itu ialah sejarah dan geografi (Skreeting dan
Sundeen, 1969).
Pengertian
social studies atau studi sosial ini oleh para ahli banyak yang memberikan
batasan, namun untuk memberikan gambaran tentang pengertian studi sosial
(jaromilek, 1977) mengisyaratkan bahwa studi sosial lebih bersifat praktis,
yaitu memberikan kemampuan kepada anak didik dalam mengelola dan memanfaatkan
kekuatan-kekuatan fisik dan sosial dalam menciptakan kehidupan yang serasi.
Studi sosial ini juga mempersiapkan anak didik untuk mampu memecahkan masalah
sosial dan memiliki keyakinan akan kehidupan masa mendatang.
A.
Sanusi (1971) mengngkapkan pengertian studi sosial bertaraf
akademik-universitas, bahkan dapat merupakan bahan-bahan pelajaran bagi anak
didik sejak pendidikan dasar dan dapat bersungsi sebagai pengantar bagi
lanjutan kepada disiplindisplin ilmu sosial. Studi sosial bersifat
interdisipliner, dengan menetapkan pilihan judul atau masalah-masalah tertentu
berdasarkan sesutau rangka referensi dan meninjau dari beberapa sudut pandang
sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu sama lain. A. Sanusi
(1971) melihat perbedaan anatar ilmu sosial dengan studi sosial berkenaan
dengan tempat diajarkan dan dipelajarinya. Jika ilmu sosial hanya diajarkan di
Perguruan Tinggi, sedangkan studi sosial diajarkan dan dipelajari sejak dari
pendidikan rendah/SD-SMA. Artinya kalau ilmu sosial menitikneratkan kepada
teori dan konsep keilmuannya maka studi sosial lebih menitikberatkan pada
masalah-masalah yang dapat dibahas dengan meninjau berbagai sudut yang ada
hubungannya satu sama lain.
Pengertian
Ilmu-Ilmu Sosial. Berbeda dengan IPS atau social studies, istilah ilmu-ilmu
sosial (IIS) adalah terjemahan dari social sciences.Disamping ilmu-ilmu sosial
terdapat pula ilmu-ilmu alam (sciences) dan humanitis/humaniora.Ilmu-ilmu alam
mempunyai tiga bagian disiplin ilmu utama yang meliputi biologi, fisika, dan
kimia.Sementara humanities terdiri, antara lain, sejarah dan sastra.Semua
bidang keilmuan dan humaniora ini berakar pada suatu bidang yang disebut
filsafat.Setiap disiplin ilmu mempunyai filsafatnya masing-masingbyang pada
akhirnya semua disiplin itu berhulu pada ajaran agama.
Dalam
struktur disiplin ilmu bsik, ilmu-ilmu sosial maupun ilmu pendidikan, belum
ditemukan adanya namasocial studies ataupun pendidikan IPS sebagai subdisiplin
ilmu. Hal ini mungkin terjadi karena social studies adalah sebuah program
pendidikan dan bukan subdisiplin ilmu (Somantri, 2001:89). Namun demikian,
sampai saat iniperan ilmu-ilmu sosial tetap menjadi konten utama untuk
untuk social studies atau PIPS.pembahasan
pada bagian ini secara khusus difokuskan pada disiplin ilmu-ilmusosial terutama
yang memberikan kontribusi pada pengembangan program social studies. Ada
beberapa pengertian ilmu-ilmu sosial yang dikemukakan oleh para ahli.Norman
MacKenzie (1966:7), misalnya merumuskan disiplin ilmu sosial sebagai “all the
academic disciplines which deal with men in their social context”, artinya
semua disiplin akademik yang berkaitan dengan manusia dalam konteks
sosial.Bernard Mausner (1979:1) menegaskan bahwa “yhe social sciences represent
yet another attempt to solve the puzzles inherent in the situation of man in
society.” Harold Kincaid (1996:6) mengemukakan “Social science should describe
how institutions relate to and influence one another, how social structure develop
and change, and how those institutions and structures influence the fate of
individuals.”
Nurman Somantri
(2001) mengidentifikasi sejumlah karakteristik dari ilmu-ilmu sosial sebagai
berikut.
a.
Berbagai batang tubuh
(body of knowledge) disiplin ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan secara
sistematis dan ilmiah.
b.
Batang tubuh disiplin
itu berisikan sejumlah teori dan generalisasi yang handal dan kuat sera dapat
diuji tingkat kebenarannya.
c.
Batang tubuh disiplin
ilmu-ilmu sosial ini disebut juga structure disiplin ilm, atau ada juga yang
menyebutnya dengan fundamental ideas.
d.
Teori dan
generalisasi dalam struktur itu disebut pula pengetahuan ilmiah yang dicapai
lewat pendekatan “conceptual” dan “syntactic”, yaitu lewat proses bertanya,
berhipotesis, pengumpulan data. (observasidan eksperimen).
e.
Setiap teori dan
generalisasi ini terus dikembangkan, dikoreksi, dan diperbaiki untuk membantu
dan menerangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan serta membantu memecahkan
masalah-masalah sosila melalui, sikap dan tindakan terbaik.
Selain
mengkaji perilaku manusia, disiplin ilmu-ilmu sosila memandang situasi
peristiwa umat manusia dari perspektif yang agak berbeda dan unik.Karena ada
perbedaan persepsi maka metodologi dan teknik penelitiannya pun berbeda. Setiap
disiplin ilmu sosial memilki konsep-konsep, generalisasi dan teori yang dapat
memeberikan kontribusi dalam penyusunan disain maupun dalam pelaksanaan proses
belajar mengajar IPS pada sekolah dasar dan menengah. Para ahli ilmu-ilmu
sosial telah memerinci sekitar 8 disiplin ilmu sosial yang mendukung untuk
pengembangan program social studies yang meliputi antropologi, ekonomi,
geografi, sejarah, filsafat, ilmu politik, psikologi dan sosiologi. Pada
hakikatnya, semua disiplin ilmu sosial tersebut memilki objek kajian yang sama,
yakni manusia.
a.
Antropologi
Para
ahli antropologi mempelajari tentang budaya manusia.Mereka tertarik dengan
kebudayaan prasejarah (kebudayaan yang diciptakan sebelum lahirnya zaman
sejarah) juga kebudayaan pada zaman modern saat ini.Mereka mengkaji kebudayaan
pada semua tingkat perkembangan teknologi.Dari zaman berburu dan zaman
pengumpulan makanan (food gathering) sampai zaman bercocok tanam dan zaman
indrusti.
Para ahli antropologi
dapat dibedakan ke dalam beberapa spesialisasi.Pertama, ahli antropologi sosial
(antropologi budaya) mempelajari tentang kelompok-kelompok manusia yang ada
saat ini yang menggunakan cara hidup (misalnya budaya) tertentu. Mereka dapat
mengkaji budaya manusia tertentu dengan cara mempelajari bagaimana
bagian-bagian budaya itu bisa cocok dalam membentuk keseluruhan budaya manusia
yang bermakna, atau mereka dapat memilih dan mempelajari sejumlah kebudayaan
berdasarkan pola-pola perilaku untuk mendapatkan “perspektif antarbudaya”
tentang kondisi manusia. Kedua, ahli etnografi adalah seorang ahli antropologi
yang punya spesialisasi dalam mengumpulkan informasi tentang segala aspek
budaya yang ada melalui kerja lapangan.Ketiga, ahli antropologi bahasa
mempelajari bahasa-bahasa yang digunkan manusia degngan fokus kajian pada penggunaan
bahasa dalam konteks sosial.
b.
Geografi
Geografi
mempelajari permukaan bumi dan bagaimana manusia memengaruhi serta dipengaruhi
oleh lingkungan fisiknya. Geografi dibagi ke dalam dua spesialisasi pokok :
geografi fisik dan geografi budaya (manusia). Dijelasakn bahwa geografi fisik
adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari segala sesuatu yang
berkaitan dengan studi tentang proses dan pola dalam lingkungan alam seperti
atmosfer, biosfer, dan hidrosfer. Geografi
fisik berlawanan dengan geografi manusia.Geografi budaya (manusia) diartikan
bahwa cabang geografi yang objek kajiannya keruangan manusia. Maksutnya
geografi budaya yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannya,
mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakian yang kita
gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita amati atau kunjungi
(Ekblaw dan Mulkeene). Geografi budaya dipelajari karena adanya masalah budaya,
kkhususnya hubungan antara pertumbuhan penduduk, konsumsi sumber daya, dan peningkatan
intensitas masalah akibat eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Dengank ata
lain bahwa geografi budaya dapat memberikan kombinasi yang kuat perangkat
konseptual untuk memahamu budaya yang kompleks.
c.
Sejarah
Sejrah
adalah studi tentang kehidupan manusia du masa lampau. Para sejarahwan tertarik
dengan semua aspek kegiatan manusia di masa lampau : politik, hokum, militer,
sosial, keagamaan, kreativitas (seperti yang berkaitan dengan seni, musik,
arsitektur islam, literature), keilmuan dan intelektual. Seoarang sejahrawan
mungkin mengkhusukan pada satu atau lebih dari aspek-aspek kegiatan manusia
(sosial, militer; seni); pada sejarh negara tertentu atau wilaya geografis
(Amerika Serikat, Afrika, Asia Tenggara, Timur Tengah); pada periode wakttu tertentu
(Abad Pertengahan, Zaman Keemasan Yunani, Zaman Kejayaan Islam, Abad Nuklir,
Abad Informasi); pada peristiwa-peristiwa penting (perang Diponegoro, Perng
Kemerdekaan Indonesia, Perang Saudara di Amerika Serikat, Kelaparan di afrika,
Revolusi Indrusti); atau kepribadian orang terkemuka (Bung Karno, Bung Hatta,
Julius Caesar, Mahatma Gandhi, Elearno Roosevelt, Martin Luther King r.)
d.
Ilmu Politik
Para
ilmuwan politik mempelajari kebijakan umum (public policies).Mereka tertarik
dengan perkembangan dan penggunaan kekuasaan manusia di dalam masyrakat,
khususnya yang tercermin dalam pemerintahan.Pada saat ini, para ilmuwan politik
telah memperluas perhatiannya dengan memasukakan hubungan antara kebijakan umum
dan masyarakat.
Bidanng
khusus ilmunpolitik meliputi pusat perhatiannya tentang tingkatan pemerintahan (atau organisasi
politik lainnya) atau berbagai fungsi pemerintahan. Bidang-bidang perhatian
khusus yang didasarkan ada tingkatan pemerintahan meliputi negara dan
pemerintahan daerah, pemerintahan pusat(nasional), hubungan internasional
(politik internasional). Pada setiap pemerintahan, para ilmuwan politik bisa
mengkhususkan lagi misalnya, pada wsatu bentuk pemerintahan nasional, seperti
monarkhi, dictator atau demokrasi.
e.
Psikologi
Para
ahli psikologi mempelajari perilaku individu-individu dan kelompok-kelompok
kecil individu. Disiplin ini terkadang didefinisikan untuk meliputi semua
bentuk perilaku : manusia dan bukan manusia, manusia normal dan abnormal,
individu dan kelompok, fisik dan mental, dan secara instink maupun dengan cara
dipelajari. Secara tradisi, para ahli psikologi telah mempelajari tentang
belajar, pertumbuhan dan perkembangan, berfikir, perasaan, perilaku kelompok,
perkembangan kepribadian, dan perilaku abnormal.
f.
Sosiologi
Ahli
sosiologi mempelajari perilaku manusia dalam kelompok-kelompok.Perhatian
utamanya adalah dalam hubungan sosial manusia perilaku manusia seperti
diwujudkan sendiri dalam perkembangan dan fungsi dari kelompok dan
institusi.Keompok-kelompok dapat mencakup kelompok yang terjadi secara ilmiah
seperti keluarga, para pekerja dalam organisasi, atau gerakan kerusuhan atau
kelompok-kelompok yang dibentuk untuk tujuan mengadakan penelitian ilmiah”di
dalam laboratorium” (seperti kelompok pengambilan keputusan atau pemecahan
masalah).Institusi-institusi kepentingan
umumnya mencakup sekolah-sekolah, media masa, kelas-kelas sosial, organisasi
perusahaan, dan penjara-penjara. Perhatian para sosiologi meliputi pula
bagaimana kelompok-kelompok dan institusi-institusi berinteraksi. Para ahli
sosiolagi bisa mengkhususkn dalam beberapa bidang, seperti keluarga,
kriminologi, komunikasi, pendapatan umum, organisasi yang ko pleks, hubungan
ras dan etnik, peranan jenis kelamin, demografi (kependudukan).pendidikan,
perilaku kelompok kecil, stratifikasi sosial, sosiologi medis, dan sosiologi
bidang pekerjaan atau profesi.
g.
Ekonomi
Berikut ini adalah
pengertian Ilmu Ekonomi menurut para ahli :
1.
Paul A.
Samuelsonmenyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang cara
orang-orang dan masyarakat membuat pilihan, dengan atau tanpa menggunakan uang,
dalam menggunakan sumber daya produksi yang terbatas tetapi dapat dipergunakan
dalam berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis komoditas dari waktu ke
waktu dan mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi saat ini atau di masa
datang, kepada berbagai orang atau kelompok dalam masyarakat.
2.
Adam Smith mengatakan
bahwa ilmu ekonomi ialah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan
negara.
3.
J.B. Say menyatakan
bahwa ilmu sebagai suatu kajian tentang
peraturan yang bisa menentukan kekayaan.
C.
Pengertian Pendidikan IPS dalam Konteks Indonesia
Pendidikan
IPS di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dokumen Kurikulum 1975 yang memuat
IPS sebagai mata pelajaran untuk pendidikan di sekolah dasar menengah.Gagasan
IPS di Indonesia pun banyak mengadopsi dan mengadaptasi dari sejumlah pemikiran
perkembangan Social Studies yang terjadi di luar negeri terutama perkembangan
pada NCSS sebagai organisasi professional yang cukup besar pengaruhnya dalam
memajukan social studies bahkan sudah mampu mempengaruhi pemerintah dalam
menentukan kebijakan kurikulum persekolahan.
Pengertian
PIPS di Indonesia sebagaimana yang terjadi di sejumlah negara pada umumnya
masih dipersepsikan secara beragam. Namun, definisi yang sudah lama dirumuskan
sebagai hasil adobsi dan adaptasi dari gagasan global reformers adalah definisi
Prof. Nu’man Somantri yang dikemukakan dalam Forum Komunikasi II Himpunan
Sarjana pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia, disingkat HISPIPSI
(sekarang berubah menjadi Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu –Ilmu Sosial
Indonesia, disingkat HISIPISI). Somantri mendefinisikan Pendidkan IPS dalam dua
jenis, yakni Pendidikan IPS untuk persekolahan da Pendidikan IPS untuk
perguruan tinggi sebagai berikut.
Pendidkan
IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.(Somantri,
2001:92).
Pendidikan
IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan
dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.(Somantri, 2001:92).
Pengertian
Pendidikan IPS yang pertma berlaku untuk pendidikan dasar dan menengah
sedangkan yang kedua berlaku untuk perguruan tinggi.Perbedaan dari dua definisi
ini terletak pada istilah “penyederhanaan” untuk pendidkan dasar dan menengah
dan sedangkan untuk perguruan tinggi ada istilah “selesksi”. Menurut Somantri,
istilah penyederhaan digunakan pada PIPS pendidkan dasar dan menengah
dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tingkat kesukaran bahan harus sesuai dengan
tingkat kecerdasan dan minat peserta didik sedangkan tingkat kesukaran untuk
perguruan tinggi adalah sama sengan tingkat kesukaran perguruan tinggi.
Adanya
pembedadefinisi PIPS di Indonesia ini berimplikasi bahwa PIPS dapat dibedakan
atas dua, yakni PIPS sebagai mata pelajaran dan PIPS sebagai kajian akademik.
PIPS sebagai mata pelajaran terdapat salam kurikulum sekolah mulai tingkat
sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah ( SMP/MTs dan SMA/MA/SMK). PIPS pada
kurikulum sekolah (satuan pendidikan), pada hakekatnya merupakan mata pelajaran
wajib sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan
Nasional pasal 39.
PIPS
untuk tingkat sekolah sangat erat kaitannya dengan disiplim ilmu-ilmu sosial
yan terintegrasi dengan humaniora dan ilmu pengetahuan alam yang dikemas secara
ilmiah dan pedagogis untuk kepentingan pembelajaran di sekolah.Oleh karena itu
IPS di tingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan para peserta
didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skills), sikap dan nilai (attitudes and values).Yang dapat digunakan sebagai
kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
kemsyarakatan agar menjadi warga negara yang baik.
PIPS sebagai kajian
akademik disebut juga IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu adalah PIPS sebagai
seleksi dan integrasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan disiplin ilmu yang
relavan,dikemas secara psikologis, ilmiah, pedagogis dan sosial-kultural untuk
tujuan pendidikan. Artunya, berbagai tradisi dalam ilmu sosial termasuk konsep,
struktur, cara kerja ilmuwan sosial, aspek metode maupun aspek nilai yang
dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial, dikemas secara psikologis, ilmiah,
pedagogis, dan sosial-kultural untuk kepentingan pendidikan. Untuk memahami
masalah PIPS seseorang hendaknya memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin
ilmu-ilmu sosial yang meliputi struktur, ide fundamental, pertanyaan pokok
(mode of iquiry), metode yang digunakan dan konsep-konsep setiap disiplin ilmu,
disamping pemahamannya tentang prinsip-prinsip kependidikan dan psikologi serta
permasalahn sosial.
D.
Perbedaan IPS dan Ilmi-Ilmu Sosial
Dibawah
ini akan diuraikan perbadaan IPS,baik sebagai mata pelajaran yang diajarkan di
tingkat sekolah (SD sampai sekolah menengah) maupun sebagai kajian akademik
yang diberikan di tingkat universitas khususnya di LPTK dengan Ilmu-Ilmu Social
(Ilmu Murni yang diajarkan di universitas).
Antara IPS
(Social Studies) dengan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences) mempunyai
hubungan yang sangat erat, karena keduanya sama-sama mempelajari dan mengkaji
hubungan timbale balik antar manusia (human relationships).
IPS
merupakan Pengetahuan terapan yang dilaksanakan dalam kegiatan instuksional di
sekolah-sekolah guna mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tertentu,antara
lain untuk mengembangkan kepekaan anak didik terhadap kehidupan Sosial di
sekitarnya. IPS bukan Ilmu, karena itu IPS tidak menemukan
pengetahuan-pengetahuan baru, konsep-konsep baru maupun teori-teori baru
malainkan memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan,konsep, dan teori-teori yang telah
dikembangkan oleh berbagai disiplin Ilmu Sosial.
Setiap
disiplin Ilmu memiliki strukturnya masing-masing yang membedakan antara Ilmu
yang satu dengan yang lain. Menurut Jerome S.Bruner, struktur ilmu menyangkut
saling hubungan antara ide-ide dasar dari disiplin Ilmu yang bersangkutan dan memiliki dua dimensi, yaitu:
1.
Dimensikonsepsional,meliputi
konsep-konsep tertentu, prinsip-prinsip,generalisasi,pengertian, dan ide-ide
yang mendasari disiplin Ilmu tersebut.
2.
Dimensi metodologis,
meliputi pengorganisasian, metode penelitian, pendekatan, yang ditentukan oleh
disiplin Ilmu yang bersangkutan.
Hubungan
Ilmu Pengetahuan Sosial denga Ilmu-Ilmu Sosial adalah: bahwa Ilmu pengetahuan
sosial bersumber pada Ilmu-Ilmu Sosisl. Atau dapat dikatakan ilmu pengetahuan
sosial mengambil bahannya dari ilmu-ilmu sosial baik berupa konsep,pengetahuan
maupun teori. Ilmu-ilmu sosial yang perlukan dalam rangka pengajaran ilmu
pengetahuan sosial terbatas pada ilmu-ilmu yang di anggap sesuai dengan
pengetahuan dan perkembangan anak didik.Tidak semua ilmu-ilmu sosial di
turunkan kedalam ilmu pengetahuan sosial, tergantung pada tingkat pendidikan
dan tingkat kematangan berfikir siswa.
E.
Tujuan Pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial (IPS)
Tujuan
pendidikan IPS tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan
berdasarkan pada falsafah negara Pancasila dan UUD 1945, yaitu:
Berdasarkan pada falsafah
negara tersebut, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia
yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat
mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi
dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai
budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia
sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.
Berdasarkan
tujuan pendidikan nasional di atas, maka tujuan pendidikan di atas harus
dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan
yang akan dihadapi siswa. Beberapa pendapat yang berkaitan dengan tujuan
pendidikan IPS, yaitu: Kurikulum 2004 (tingkat SD) menyatakan bahwa,
Pengetahuan Sosial bertujuan untuk: mengajarkan
konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan,
pedagogis, dan psikologis. mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial membangun komitmen dan
kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan meningkatkan kemampuan
bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara
nasional maupun global.
Tujuan
pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah “membina anak didik
menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”
Tujuan
pendidikan IPS menurut (Oemar Hamalik. 1992)merumuskan tujuan pendidikan IPS
berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan
pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4)
keterampilan.
IPS
juga bertujuan untuk mengembangkan sikap belajar yang baik. Artinya dengan
belajar IPS anak memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) untuk menemukan
ide-ide, konsep-konsep baru sehingga mereka mampu melakukan perspektif untuk
masa yang akan datang. Sikap belajar tersebut diarahkan pada pengembangan
motivasi untuk mengetahui, berimajinasi, minat belajar, kemampuan merumuskan
masalah, dan hipotesis pemecahannya, keinginan melanjutkan eksplorasi IPS
sampai ke luar kelas, dan kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan data.
Salah
satu fungsi pengajaran IPS adalah mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman
tentang masyarakat berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak. Selain itu juga
mengembangkan rasa kontinuitas dan stabilitas, memberikan informasi dan
teknik-teknik sehingga mereka dapat ikut memajukan masyarakat sekitarnya.
Sebagai contohnya tradisi dan nilai-nilai dalam masyarakat, kebudayaan dari
berbagai lingkungan serta pengaruhnya terhadap hubungan dengan warga masyarakat
lainnya, pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber ekonomi oleh masyarakat.
F.
Pendidikan Global
Bukan
rahasia lagi kalau saat ini dunia sedang mengalami perkembangan yang sangat
pesat dalam berbagai bidang dan aspek
kehidupan masyarakat dan negara. Batas-batas teritorial antarnegara yang
sebelumnya menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam konteks hubungan
antarbangsa dan negara, kini hal itu tidak menjadi kendala yang berarti.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam eskalasi yang tinggi terutama
teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi telah menyebabkan batas-batas
atau sekat-sekat geografis antarnegara dan bangsa seolah tak nampak lagi.
Pantas, kalau banyak pihak mengatakan bahwa kecenderungan kehidupan bangsa dan
negara saat ini mengarah kepada terbentuknya suatu masyarakat global (global
village).
Marshall
McLuhan mengkonseptualisasikan “global
village” yang dimaknai sebagai sebuah proses homogenisasi jagat sebagai akibat
dari kesuksesan sistem komunikasi secara keseluruhan. Saat ini, betapa mudahnya
orang melakukan komunikasi jarak jauh, tidak hanya antarkota melainkan
antarnegara yang lokasinya sangat berjauhan. Bahkan, saat ini tidak jarang para
petinggi negara mengadakan pertemuan dengan staf pembantunya (misalnya menteri)
melalui teleconference atau konferensi jarak jauh dengan maksud untuk memantau
keadaan atau situasi dalam negeri, baik keadaan politik maupun ekonomi, dan
sebagainya. Demikian pula, komunikasi dapat dilakukan melalui media internet
yang dalam waktu yang relatif singkat, dapat diperoleh informasi atau
berita-berita.
Pendidikan
Global adalah upaya untuk menanamkan suatu pandangan (prespective) tentang
dunia kepada siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar
budaya, umat manusia dan kondisi planet bumi. Tujuan pendidikan setiap mata
pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berfikir
kritis, namun ada hal yang unik dalam pendidikan global, yakni fokus substansinya
yang berasal dari hal-hal yang mendunia yang semakin bercirikan pluralisme.
Tujuan pendidikan global adalah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap yang diperlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber
daya alamnya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme
budaya dan semakin saling ketergantungan.
Perlunya meningkatkan orientasi
para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Meskipun di wilayah
Indonesia, upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada
lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu diberdayakan. Kemajuan
teknologi, perdagangan antarnegara, pertukaran budaya, pariwisata, kepedulian
terhadap lingkungan, persaingan pasar, kelangkaan dalam sumber alam dan semakin
kompleks. Adanya saling ketergantungan antar bangsa dan negara menimbulkan
bentuk-bentuk kerjasama di segala bidang yang sekaligus pula menimbulkan
berbagai persaingan dan konflik. Misalnya; kerja sama di bidang ekonomi telah
menciptakan model-model blok-blok ekonomi negara-negara seperti Eropa berdiri
Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), di Asia Pasifik berdiri APEC. Akibat dari
perkembangan dalam teknologi yang diiringi pula oleh munculnya permasalahan,
sedikit demi sedikit, disadari ataupun tidak telah menimbulkan adanya kontak
singgungan budaya antarbangsa.
Peristiwa
atau proses kejadian di atas dinamakan proses globalisasi yang berpengaruh pula
Dengan Proses Pendidikan. The American
Association Of Colleges For The Teacher Education (AACTE,1994) mengemukakn
bahwa ‘globalization is said to necesssiate changes in teaching, such as more
attention to diserve and universal human values global sistem, global issues,
involment of different kinds of world actors, and global history.
National
Council for the Sosial Studies (NCSS,1982) mengemukakan beberapa gejala atau
fenemona proses globalisasi sebagai berikut:
1.
Adanya evolusi dalam
sistem komunikasi dan transportasi global.
2.
Penggabungan
perekonomian lokal, regional dan nasional menjadi perekonomian global.
3.
Meningkatnya
intensitas interaksi antar masyarakat yang menciptakan budaya global sebagai
panduan dari budaya lokal, regional dan nasional yang beragam.
4.
Munculnya sistem
international yang mengikis batas-batas tradisi politik internasioanal dan politik
nasional.
5.
Meningkatkan dampak
aktifitas manusia terhadap ekosistem di bumi.
6.
Meningkatnya
kesadaran global yang menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia di bumi
sebagai anggota makhluk manusia, sebagai penduduk di bumi dan sebagai anggota
dalam sistem global.
Pandangan
suatu bangsa atau negara yang berpaling dari pandangan global hanya akan
membuat negara atau bangsa itu terisolir maka dari itu globalisasi telah
menuntut setiap warga dunia untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
(SDM) untuk menghadapi persaingan. Kali ini dalam materi Pendidikan IPS sendiri
Pendidikan Global mengkaji beberapa hal yakni: 1). Kajian tentang Nilai-nilai
manusia, 2). Kajian tentang sistem global, 3). Kajian tentang masalah-masalah
dan isu-isu global, 4). Kajian sejarah hubungan antarbangsa
G.
Model Pembelajaran IPS
Model
Pembelajaran IPS ialah sebagai desain pembelajaran inkuiri (inquiry approach).
Yaitu sebagai sebuah metode mengajar yang berorientasi pada latihan meneliti
dan mempertanyakan, istilah ini sejajar dengan metode pemecahan masalah,
berfikir reflektif dan atau “discovery” (Hagen, 1969)
Welton
dan Mallan (1988) membandingkan istilah “inquiry” dengan metode pemecahan
masalah (problem solving) dan bahkan dengan hapalan/memori sebagai suatu
perilaku dan proses. Dalam konteks ini, masalah atau untuk memproses informasi.
Beyer
(1971) menyatakan bahwa “inquiry is one way of knowing” –suatu cara untuk
mengetahui lebih lanjut, apabila orang terkait dalam proses investigasi,
berusaha menjawab pertanyaan, dan berusaha memecahkan masalah secara
berkelanjutan, maka orang-orang ini telah melakukan proses inkuiri.
Jhon
Dewey (1859-1952) menyatakan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pengajaran
telah menjadi obsesi. Inkuiri merupakan salah satu pendekatan yang saat ini
digunakan oleh para pengembang kurikulum khususnya di sekolah-sekolah Australia
dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan dalam proses belajar-mengajar
dipersekolahan.
Menurut
para ahli, pendekatan inkuiri merupakan upaya yang dimaksudkan untuk mengatasi
masalah kebosanan siswa dalam belajar di kelas. Pendekatan ini cukup ampuh
karena proses belajar lebih terpusat kepada siswa (student-centred instruction)
daripada kepada guru (teacher-centred instruction).
Wesley
(1950) menyatakan bahwa guru yang baik haruslah memiliki metode yang baik, dan
guru yang terbaik ditentukan oleh metode yang dikuasainya. Lebih jauh, Wesley
menyatakan bahwa metode yang baik memerlukan sikap guru yang akurat, artistik,
berkepribadian dan selalu menyesuaikan dengan tingkat pengalaman siswa.
Banks
(1990) mengemukakan pendekatan mengajar dalam IPS dengan menggunakan inkuiri
sosial untuk menghasilkan fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Namun tujuan
utama inkuiri sosial menurutnya adalah untuk membangun teori. Teori dapat
digunakan untuk memamhami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol perilaku
masyarakat. Selain itu, tujuan inkuiri sosial pun diharapkan dapat membantu
masyarakat dalam memecahkan masalah-sosial.
Langkah-langkah
model pembelajaran ingkuiri untuk kelas IPS yang dikemukakanBanks adalah
sebagai berikut :
Pertama, Perumusan
masalah (Problem Formulation), Kedua,Perumusan Hipotesa (Formulation of
Hypotheses), Ketiga, Definisi Istilah: Konseptualisasi, Keempat, Pengumpulan
data (Collection of Data), Kelima, Pengujian dan Analisi Data (Evaluation and
Analysis of Data), Keenam, Menguji hipotesis untuk memperoleh generalisasi dan
teori
Ketujuh, Memulai
inkuiri lagi.
Model
atau desain Pembelajaran Keterampi lan berpikir (thinking skills) ada 2 model,
yaitu: Critical thinking skills atau ketera mpilan berpikir kritis. Menurut
Johnson (1991), merumuskan istilah berpikir kritis (critical thinking) secara
etimologi menyatakan bahwa kata “critic” dan “critical” berasal dari “krenein”
yang berarti menaksir nilai sesuatu. Ia menjelaskan bahwa kritik adalah
perbuatan seorang yang mempertimbangkan, menghargai dan menaksir nilai sesuatu
hal. Tugas seorang berpikir kritis sdalah menerapkan norma dan standar yang
tepat terhadap sesuatu hasil. The Group of Five (Etnis 1989; Lip man 1988;
Siegel 1988; Paul 1989; McPeck 1981), menyimpulkan bahwa ada tiga persetujuan
subtansi dari kemampuan berpikir kritik Yaitu berpikir kritis memerlukan
sejumlah kemampuan kognitif, berpikir kritis memerlukan sejumlah informasi dan
pengetahuan, berpikir kritis mencakup dimensi afektif yang semuanya menjelaskan
dan menekankan secara berbeda-beda. Sedangkan berpikir kritis adalah untuk
menilai suatu pemikiran, menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan atau
praktek dari suatu pemikiran dan nilai tersebut. Selain itu, berpikir kritis
meliputi aktivitas mempertimbangkan berdasarkan pada pendapat yang diketahui.
Menurut Lipman (1988), layaknya pertimbangan-pertimbangan ini hendaknya
didukung oleh criteria yang dapat dipertanggung jawabkan.
Creative thinking atau
ketrampilan berpikirkreatif.
Menurut
Savage And Amstrong (1996), syarat untuk memasuki sikap berpikir kritis adalah
sikap siswa memunculkan ide-ide atau pemikiran baru; siswa membuat pertimbangan
dan penilaian atau taksiran berdasarkan kreteria yang dapat
dipertanggungjawabkan. Preston Dan Herman (1974), inkuiri dan ketrampilan
berpikir kritis tumbuh subur di kelas III. Menurut (Wiken, 1995; Beyer, 1985;
Fraenkel, 1980), Pengajaran berpikir kritis meliputi pendekatan, strategi,
perencanaan, dan sikap siswa dalam berpikir kritis. Model Ini pernah dijelaskan
oleh beliau pada studi sosial di Amerika Serikat.
Keterampilan berpikir
kritis menurut Beyer ada 10, yaitu :
1.
Membedakan antara
fakta dan nilai dari suatu pendapat.
2.
Menentukan
reliabilitas sumber.
3.
Menentukan akurasi
fakta dari suatu pertanyaan.
4.
Membedakan informasi.
5.
Mendeteksi
penyimpangan.
6.
Mengindentifikasi
asumsi yang tidak dinyatakan.
7.
Mengindentifikasi
tuntutan dan argumentasi yang tidak jelas.
8.
Mengakui perbuatan
yang keliru dan konsisten.
9.
Membedakan antara
pendapat yang tidak dan dapat dipertanggung jawabkan.
10. Menentukan Kekuatan argument.
Menurut
Beyer strategi berpikir kritis yang cukup efektif untuk Proses Belajar Mengajar
(PBM), ialah Strategi innduktif yang bersifat direktif. Adapun langkah-langkah
yang harus dipersiapkan guru adalah :
Memperkenalkan
ketrampilan ,dan kemudian siswa
Mencobakan
ketrampilan sebaik mungkin,
Menggambarkan serta
mengartikulasi apa yang terjadi dalam pikiran ketika menerapkan ketrampilan
tersebut.
Menerapkan
pengetahuan tentang ketrampilan baru untuk diterapkan lagi, dan akhirnya; Meninjau
lagi apa yang terpikir ketika ketrampilan itu diterapkan, Menurut Beyer
strategi berpikir kritis yang ke-2 adalah strategi direktif yang artinya
memberikan kesempatan pada siswa untuk menguasai dan memahami betul komponen
ketrampilan tersebut sejak permulaan. Strategi ini digunakan bila ketrampilan
siswa agak kompleks. Dalam strategi ini memerlukan bimbingan khusus.
Beyer merumuskan ada
5 langkah dalam penerapan strategi direktif, yaitu
1.
Memperkenalkan
ketrampilan berpikir kritis.
2.
Menjelaskan prosedur
dan aturan ketrampilan.
3.
Menunjkan bagaimana
ketrampilan itu digunakan di kemudian hari.
4.
Menerapkan
ketrampilan tersebut mengikuti langkah dan aturan yang jelas.
5.
Menggambarkan tentang
apa yang terjadi dalam pikiran siswa ketika ketrampilan itu diterapkan.
Implementasi
Model-Model Pembelajaran IPS
Kemampuan
siswa dalam memecahkan masalah baik masalah pribadi maupun masalah sosial
sangat diperlukan karena pada hakekatnya siswa hidup ditengah lingkungan
masyarakat yang penuh dengan benih-benih munculnya masalah. Hal ini sejalan
dengan tujuan pendidikan untuk mendewasakan siswa, maka salah satu
indikator dewasa
adalah kemampuan akan kemandirian sebagai warga masyarakat. Model pembelajaran
“problem solving” pemecahan masalah merupakan alternative model pembeljaran
dalam IPS.
Model pembelajaran
“problem solving”.
Ada 4 tahapan proses
pemecahan masalah menurut Savage dan Armstrong, yaitu :
1.
Mengenal adanya
masalah.
2.
Mempertimbangkan
pendekatan-pendekatan untuk pemecahannya.
3.
Memilih dan
menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut.
4.
Mencapai solusi yang
dapat dipertanggungjawabkan.
Sedangkan
menurut wilkins (1990), menguraikan 6 langkah model pembelajaran “problem
solving”, yaitu :
1.
Mengklarifikasikan
dan mendefinisikan masalah.
2.
Mencari alternatif
solusi.
3.
Menguji alternatif
solusi.
4.
Memilih solusi.
5.
Bertindak sesuai
dengan pilihan solusi.
6.
Tindak lanjut
(follow-up).
Model
“problem solving” inkuiri atau model pembelajaran penemuan.
Secara umum batasan
yang tegas antara tiga pendekatan/ model pembelajaran tersebut belum ada
kesepakatan. Persamaan dari ketiga model pembelajaran tersebut adalah semua
mensyaratkan adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar melalui
proses penelitian, yaitu meneliti hubungan antar sejumlah data/ informasi untuk
tercapainya suatu solusi. Untuk mengatasi kerancuan, Welton and mallan (1988)
mengemukakan bahwa penggunaan model pembelajaran “problem solving” agak berbeda
bila diterapkan pada mata pelajaran yang berbeda.
Komentar
Posting Komentar