Book Report Pendidikan IPS dan Konsep Pembelajaran

A.        Pendahuluan

Dalam Book Report ini, penulis melaporkan dan menganalisa buku yang berjudul “Pendidikan IPS” dan Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Buku Pendidikan IPS ini ditulis oleh Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., dan buku Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran ini ditulis oleh Prof. Dr. Sapriya, M.Ed.

Buku Pendidikan IPS ini diterbitkan pada bulan September 2016 (cetakan kedua). Ukuran buku ini adalah 14,8 cm x 21 cm dan berisi 15 sub bab. Buku ini terdiri dari 393 halaman yang diterbitkan oleh Mediakom Indonesia Press Bali, di Jalan Wijaya Kusuma V/5 Singaraja Bali, dengan telepon (0362) 7027512/081236795588, serta alamat e-mail: tpimediakom@gmail.com, selanjutnya buku Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran di terbitkan oleh: PT Remaja Rosdakarya, Cetakan: 8, November 2017, Ukuran: 16x24 cm, Kertas isi:HVS 70 gr, Kertas sampul: AC 210 gr, Halaman: 230 Halaman, ISBN: 979-692-957-0, Email: rosdakarya@rosda.co.id.

Hak cipta ke 2 buku itu juga dilindungi Undang-Undang untuk menanggulangi pembajakan atau penjualan ilegal sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk apapun secara elektronikmaupun mekanis tanpa izin tertulis dari penerbit.

 

Pendidikan IPS ditulis oleh Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd.

 

B.        Uraian Singkat

1.         Bab I “Kebijakan Kurikulum IPS”

Pada bab I ini, dijelaskan bahwa perubahan dan perkembangan zaman menimbulkan persoalan sosial pada diri manusia. Untuk mengatasi permasalahan sosial yang semakin kompleks tersebut, tidak cukup dengan pendekatan keilmuan tunggal, melainkan dengan pendekatan keilmuan secara mulidisipliner. Penyiapan generasi muda yang berkarakter dan memiliki kepekaan sosial sangat diperlukan. Dalam upaya mewujudkan hapan itu, sekolah mengadakan pembinaan tentang masalah-masalah sosial melalui program social studies.

Di dalam bab ini juga membahas mengenai hal-hal yang perlu dicermati dalam pelaksanaan kurikulum tahun 2006 (KTSP). Ada 8 upaya yang perlu dicermati dalam pelaksanaan standar isi IPS yaitu Sosialisasi Kurikulum, Dokumen, Penyusunan Program Silabus dan RPP, Struktur Program, Strategi Pembelajaran, Penilaian, Sarana Pembelajaran, dan Kulaifikasi Guru. Juga dijelaskan ada beberapa landasan filosofis pengembangan kurikulum IPS yaitu essensialisme, perenialisme, progresivisme, dan rekontruktivisme. Untuk melihat perkembangan psikologi siswa ada 2 teori yang disebutkan, yakni Teori Piaget (proses perubahan skema terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi) dan Teori Bruner (ada tiga tahapan berpikir yaitu enactive, iconic, dan symbolic).

 

2.         Bab II “Sejarah Dan Kawasan Pendidikan IPS”

Pada bab II ini, dijelaskan bahwa untuk pertama kalinya di Rugby (Inggris) IPS dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah pada tahun 1827 dengan nama “social studies” yang kemudian berkembang di Indonesia seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan baik pada tingkatan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Selain itu dijelaskan pula mengenai Kawasan Pendidikan IPS, yang menyatakan bahwa IPS merupakan penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan pendidikan (Somantri, 2001:92). Di dalam kurikulum standar NCSS untuk tingkat sekolah kelas 1 s/d 12 dinyatakan bahwa ruang lingkup kurikulum IPS meliputi 10 pokok tema (Culture; Time, continuity, and change; People, places, and environment; Individual, development, and identity; Individual, groups, and institution; Power, outhority, and governance; Production, distribution, and consumtion; Science, technology and society; Global connections; Civic ideals and practices). Sedangkan di Perguruan Tinggi terdapat 7 pokok tema yaitu Pendidikan IPS Terpadu, Pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Sosiologi-Antroplologi, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Pada bab ini juga dijelaskan mengenai karakteristik Pendidikan IPS yang meliputi 3 rincian yaitu: a) Pendidikan IPS mempunyai tujuan utama untuk membentuk warga negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang demokratis. b) IPS membantu siswa dalam mengkonruksi pengetahuan akademik sebagai suatu pengalaman khusus. c) IPS mencerminkan perubahan pengetahuan, mengembangkan sesuatu yang baru dan menggunakan pendekatan terintergrasi untuk memecahkan isu secara manusiawi. Beberapa istilah terkait IPS yaitu Social sciences, Social education, dan Social science education. Disebutkan pula bahwa tujuan utama pendidikan IPS adalah mempersiapkan siswa sebagai warga negara agar dapat mengambil keputusan secara reflektif.

 

3.         Bab III “IPS Sebagai Kegiatan Keilmuan”

Pada bab III ini, dijelaskan tentang bagaimana pentingnya IPS sebagai suatu kegiatan keilmuan. Dimana di dalamnya dibahas mengenai kesalahpahaman dari masyarakat yang menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat untuk merekontruksi sikap serta perilaku masyarakat. Sekolah bertugas melakukan pendidikan keilmuan, dalam arti mendidikkan sikap ilmiah sekaligus mengajarkan ilmu pengetahuan. Juga dijelaskan sejarah perkembangan ilmu-ilmu Pendidikan IPS di Amerika Serikat, mulai dari lahirnya Amerika Serikat hingga tumbuh dan berkembangnya Pendidikan IPS di lembaga-lembaga pendidikan Amerika Serikat. Selain perkembangan IPS di Amerika Serikat, bab ini juga memaparkan perkembangan IPS di Indonesia, yaitu dari hadirnya manusia purba (Homo Wajakensis) sebagai asal-usul mula lahirnya kebudayaan di Indonesia dan terus berkembang. Dimana perkembangannya itu masih ada keterkaitan dengan Amerika Serikat, itu terbukti dengan adanya perbandingan sistem pembelajaran antara Indonesia dan Amerika Serikat. Seperti selama 70-80 tahunan (sejak lahirnya IPS 1916) di Amerika Serikat telah berkembang 4 jenis IPS yaitu IPS gaya lama, IPS progresivisme, social science education, dan IPS gaya baru. Sedangkan selama 40 tahun pasca kemerdekaan, sekolah-sekolah di Indonesia baru melaksanakan jenis IPS gaya lama dan IPS progresivisme.

 

4.         Bab IV “Pendidikan IPS: Isu Dan Harapan”

Secara garis besar, bab IV ini mengulas tentang Pendidikan IPS dalam melakukan perubahan pada masyarakat. Dalam ulasan ini ada rasional pembahasan dan tawaran konsep-aplikatif yang lebih banyak dimaksudkan kepada mereka yang meyakini keberbedaan hak dari setiap individu serta kemampuan personal yang holistik. Filosofi pada buku ini bahwa kurikulum harus relevan dengan keinginan, hidup, dan kebutuhan peserta didik secara alamiah. Sebagai seorang pembelajar harus membelajarkan siswanya menjadi pemimpin dunia di masa mendatang melalui pembelajaran IPS. Sebagai sebuah laboratorium pendidikan warga negara, IPS selayaknya menekankan pada cara-cara membelajarkan pebelajar untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang demokratis.

Pada bab ini juga diulas bahwa ada beberapa model pembelajaran yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS yaitu the disclipinary model, the multydisclipinary model, cityzenship education, the problem inquiry model, dan the humanistic model.

 

5.         Bab V “Tujuan Dan Tradisi Pembelajaran IPS”

Dalam bab V ini dibahas mengenai tujuan dan tradisi pembelajaran IPS. Dimana pendidikan IPS merupakan padanan dari Social Studies dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat. Untuk skala Indonesia, tujuan IPS adalah agar peserta didik mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994:93). Pola pembelajaran IPS di SD hendaknya lebih menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pemahaman, nilai-moral, dan keterampilan-keterampilan sosial pada siswa.

Dikaitkan dengan pengembangan berpikir rasional, dalam kegiatan intruskional, dikenal pula beberapa model pembelajaran IPS yang lebih menekankan pada pengembangan dan peningkatan kemampuan berpikir ilmiah dan kreatif sebagaimana layaknya ilmuwan sosial. Di dalam tradisi pembelajaran IPS di Indonesia, ada beberapa model pendekatan pengorganisasian materi yang dikenal seperti pendekatan integrasi pada jenjang sekolah dasar, pendekatan korelasi pada jenjang SLTP, dan pendekatan sparated pada jenjang SMU. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model yang dikembangkan dan diteliti oleh para pakar berkaitan dengan pengembangan intelektual dan peningkatan perolehan belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS. Namun, belum banyak yang menyentuh bagaimana upaya meningkatkan literasi sosial-teknologi peserta didik dalam pembelajaran IPS. untuk itu, perlu dilakukan penelitian untuk memfokuskan pada upaya pengembangan model belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan dan literasi sosial-teknologi, pemahaman materi, dan keterampilan sosial peserta didik dalam pembelajaran IPS.

 

6.         Bab VI “Kompetensi Pendidikan IPS”

Dalam bab VI ini, dipaparkan bahwa lahirnya kompetensi sejalan dengan terjadinya perubahan sosial budaya dari masyarakat dan budaya agraris ke masyarakat dan budaya industri atau teknologi. Kompetensi-kompetensi dasar IPS SD yang dirumuskan pada bab ini mencakup tiga dimensi pengembangan, yaitu (1) kompetensi-kompetensi personal, (2) kompetensi-kompetensi sosial, dan (3) kompetensi-kompetensi intelektual.

Untuk membangun kompetensi personal siswa, ada beberapa sub-kompetensi yang harus diakomodir dan dikembangkan yaitu kompetensi sikap obyektif terhadap diri sendiri, kompetensi aktualisasi diri, kompetensi kreativitas diri, kompetensi penghayatan nilai dan sikap keberagaman. Sedangkan pada kompetensi sosial, ada sejumlah kompetensi dasar sosial yang perlu dimiliki dan dikuasai oleh siswa SD sebagai makhluk sosio-kultural adalah kompetensi dan kesadaran atas tata krama, kompetensi berkomunikasi, kompetensi interaksi sosial, kompetensi bekerjasama, kompetensi sikap prososial atau altruism, kompetensi partisipasi sosial, dan kompetensi kesadaran terhadap keberbedaan. Dan kompetensi-kompetensi intelektual yang harus dimiliki dan dikembangkan pada diri siswa SD adalah kemampuan berpikir kritis reflektif, kompetensi berpikir kontekstual, kompetensi berpikir pragmatis, keterampilan geografis, pemahaman dan kesadaran tentang waktu, logika, serta pemahaman kesejarahan.

 

7.          Bab VII “Pola Pengorganisasian Materi Pendidikan IPS”

Pada bab VII ini dibahas mengenai pola pengorganisasian materi pendidikan IPS. Dilihat dari perspektif siswa, kelemahan utama kurikulum esensialistik terletak pada pandangan bahwa siswa hanya diperankan sebagai passive recivient terhadap realitas dan kebenaran yang secara ontologis berada di luar dirinya.implikasi dari kondisi tersebut adalah pembelajaran IPS kurang diminati siswa. Dalam bab ini juga dibahas konteks rekontruksi pola organisasi materi IPS sekolah dasar berdasarkan perspektif kontruktivisme personal, interpersonal, dan sosiologi mencakup: 1) konteks personal siswa, 2) konteks interpersonal/sosiokultural siswa, serta 3) konteks sosial, kultural, dan historikal masyarakat.

Diulas juga bahwa pola perkembangan organisasi menurut Piaget mengikuti prinsip sirkularitas atau siklus berjenjang sejalan dengan tahapan perkembangan personal siswa, atau menurut Vygotsky mengikuti prinsip saling kerjasama, saling mendukung, dan saling memediasi di antara fungsi-fungsi psikologis melalui mekanisme internal atau intra-psikologis (kontruktivisme personal), mekanisme interpersonal, interpsikologis, dan melalui mekanisme eksternal atau sosiologis. Secara paragdimatik, isi kurikulum IPS SD dipandang memiliki sebuah pola organisasi dan struktur, apabila tercipta dalam bentuk sebuah relasi sistemik yang saling berkaitan penuh makna diantara satu bagian materi dengan bagian materi yang lain, hingga membangun sebuah totalitas atau kesatuan bidang materi. Kurikulum sebagai pola pengaturan pengalaman belajar bermakna harus memberikan peluang besar kepada siswa untuk melakukan aktivitas pengorganisasian diri dan pengaturan diri.

Berdasarkan kajian dan temuan empiris, simpulan yang dapat dibuat bahwa ada dua kontribusi penting pemikiran Vygotsky yang bisa digunakan sebagai pijakan dalam rekontruksi struktur isi kurikulum IPS Sekolah Dasar, yaitu 1) bahwa hakekat struktur isi kurikulum adalah sosiokultural, 2) bahwa struktur isi kurikulum harus menjadi sebagai alat-alat psikologis yang mampu memediasi dan menjembatani kemungkinan bekerjanya fungsi-fungsi psikologis yang terdapat pada diri siswa. Pertimbangan utama rekontruksi struktur isi kurikulum IPS SD tetap ditekankan pada tingkat keterkaitan dengan struktur substantif, sintaktik, dan normatif yang sudah siswa miliki.

 

8.         Bab VIII “Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPS”

Pada bab ini, dibahas tentang berpikir kritis dalam pembelajaran IPS. intelegensi dan kemampuan berpikir memiliki hubungan kausalitas level tinggi, sehingga semakin tinggi kemampuan berpikir seseorang, makin tinggi pula intelegensi orang tersebut. Pembelajaran IPS senantiasa mengandung kegiatan berpikir, namun apabila tidak diprogramkan secara khusus, proses pendidikan berpikir itu akan berdampak pada rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran, sehingga tidak memadai untuk melatih seseorang mengembangkan kemampuan berpikirnya secara optimal. Pengembangan iklim sekolah dan kelas yang menyenangkan akan menggugah kreativitas siswa dalam berpikir. Pembelajaran berpikir kreatif akan mengkondisikan siswa untuk memahami masa lalu dan menyiapkan diri menyambut masa depan.

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir, kalangan pembelajar dapat menggunakan kemajuan teknologi, seperti penggunaan komputer, jaringan telekomunikasi terpadu. Dengan fasilitas ini, pebelajar akan dapat mengasah dan meningkatkan kemahiran dan kelincahan intelektualnya selama proses pembelajaran berlangsung. Kemajuan teknologi bukan semata-mata untuk memudahkan guru dalam mengajar. Kalangan pembelajar dituntut untuk peka dan atisipatif terhadap perkembangan teknologi, mengingat social studies merupakan disiplin ilmu yang merasuk dalam setiap hati nurani masyarakat, yang mana prinsip-prinsipnya merupakan keseharian masyarakat itu sendiri. Mengingat perkembangan masyarakat global yang sangat dinamis, yang menuntut kemampuan dan keterampilan berkomunikasi, ada banyak metode pembelajaran yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi, salah satunya yaitu diskusi kelompok.

Dalam bab ini juga diulas bahwa melalui asesmen pembelajar dapat menilai potensi diri dan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan perkembangan belajar siswa dalam setiap pembelajaran.

 

9.         Bab IX “Pendidikan Nilai Dalam Pembelajaran IPS”

Dalam sub bab ini, dijelaskan tentang pendidikan nilai sebagai sebuah proses transaksional yang melibatkan seperangkat piranti sosial budaya dan ideologi kebangsaan dirasakan semakin penting dalam memasuki era globalisasi saat ini.Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran afektif dalam IPS telah diredusir ke arah transformasi pengetahuan dalam bentuk gifted. Implikasinya, pendidikan nilai direduksi menjadi pengajaran nilai yang gersang dari nilai itu sendiri. Pada bab ini juga, Lasmawan  (2006) yang menyatakan bahwa pembelajaran pendidikan IPS pada jenjang sekolah menengah bersifat integrated, sehingga materi yang dibelajarkan dalam pendidikan IPS merupakan akumulasi dari sejumlah disiplin ilmu sosial. Acuan pengembangan model pendidikan nilai yang selama ini diaplikasikan dalam pendidikan IPS lebih cenderung menekankan pada pemahaman materi dan cenderung mengabaikan aspek nilainya.

 

10.      Bab X “Pendidikan Multikultur Dalam Pembelajaran IPS”

Dalam bab X ini, dibahas mengenai pendidikan multikultur dalam pembelajaran IPS. seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki beraneka ragam kebudayaan. Multikulturalisme merupakan paham yang mengakui perbedaan dan keberagaman dalam suatu bingkai kebersamaan dan kesederajatan. Demokrasi merupakan salah satu komponen yang menjamin bangunan multikulturalisme.dari semua itu, salah satu media yang bermakna bagi pengembangan kesadaran akan multikulturalisme adalah pendidikan IPS. Melalui pendidikan multikultur yang terintegrasi secara holistik dalam mata pelajaran, dapat meningkatkan pemahaman dan pelatihan keterampilan hidup dalam keberagaman kepada peserta didik, sehingga pada saatnya nanti mereka mampu melakoni kehidupan bermasyarakat yang multikultur dalam wadah negara kesatuan.

Menurut Banks (1995) terdapat 5 model pendidikan multikultur yang berkembang yaitu cultural difference, human relation, single group studies, reformasi pendidikan, dan rekontruksi sosial. Selain itu juga terdapat 6 konsep umum pengembangan pendidikan multikultur yaitu right to culture, kebudayaan Indonesia yang holistik, konsep pendidikan multikultur normatif, rekontruksi sosial, pendidikan multikultur di Indonesia memerlukan pedagogik baru, dan pendidikan multikultur bertujuan untuk mewujudkan visi kebangsaan di masa depan serta etika bangsa.pada bab ini juga menjelaskan tujuan dari pendidikan multikultur menurut Rahardjo (2005) adalah 1) meningkatkan konsep dan pemahaman diri, 2) meningkatkan sensitivitas terhadap orang lain dan masyarakat bangsa lain, 3) meningkatkan pemahaman terhadap keberagaman, 4) meningkatkan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan analisis dan sistesis, 5) berpikir terbuka, 6) meningkatkan pemahaman terhadap sejarah bangsa, 7) meningkatkan nasionalisme dan pengahargaan terhadap bangsa lain. Dan juga ada beberapa model mengajar yang visibel untuk dikembangkan dalam pendidikan multikultur yaitu Modelling, Trials and errors atau Laisez fair, Values clarification technique, Conflict resolution.Sementara itu Jannes (2011) menyatakan bahwa fokus pendidikan multikultur dapat diarahkan pada 1) pembentukan karakter multikulturalisme siswa through daily activities, 2) pelatihan hidup bersama dalam keberagaman melalui sosiodrama and social fragmentation, 3) pembentukan jiwa tanggungjawab dan ketertanggapan sosial dengan proyek kelas dan public study, 4) pelatihan keterampilan sosial dan moral sosial melalui pengembangan sistem kerja kooperatif dan learning by action, 5) pengembangan jiwa dan keterampilan bertoleransi dan berdemokrasi melalui class discusion and social action.

 

11.      Bab XI “Model Belajar Kooperatif”

Bab ini membahas tentang model pembelajaran cooperative learning adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran. Dikemukakan juga ada 6 keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa di dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model cooperative learning. Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Dalam pengelolaan kelas model cooperative learning ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas. Dalam model pembelajaran cooperative learning ini ada 3 teori yang mendukungnya diantaranya teori rekontruksi sosial Vygotsky, teori pembelajaran Piaget, teori pembelajaran Ausubel. Disini juga diberikan beberapa catatan kepada penyelanggara pendidikan, antara lain bagi guru, kepala sekolah, dan pengambil kebijakan. Dan pada setiap akhir bahasan diberikan satu contoh model pembelajaran cooperative yaitu model STAD yang bertujuan mendorong siswa berdiskusi, saling membantu menyelesaikan tugas, menguasai dan pada akhirnya menerapkan keterampilan yang diberikan. Pendekatan STAD ada 5 langkah yaitu persiapan, penyajian materi, tahap kerja kelompok, tahap tes individu, dan tahap pengahargaan.

12.      Bab XII “Model Pemecahan Masalah Dalam Konteks Pembelajaran”

Pada bab ini dijelaskan bahwa ada 4 prinsip dasar kontruktivisme mengenai pengetahuan yaitu pengetahuan terdiri atas kontruksi-kontruksi masa silam, pengkontruksian pengetahuan terjadi melalui asimilasi dan akomodasi, belajar merupakan suatu proses organik dari penemuan yang lebih dari pada hanya sekedar proses mekanik akumulasi, belajar bermakna terjadi melalui proses refleksi dan resolusi konflik. Disebutkan juga ciri-ciri  proses aktif siswa dalam mengkontruksi pengetahuan. Selanjutnya ada pula gaya kognitif dalam pembelajaran yang merupakan karakteristik individu dalam merasakan, mengingat, berpikir, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Lasmawan (2004) memaparkan 5 tahapan strategi pemecahan masalah yang dapat ditempuh dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi, yaitu visualisasi masalah, mendeskripsikan masalah-masalah atau konsep, merencanakan solusi, menyelesaikan rencana, mengecek dan mengkaji solusi. Gaya kognitif dalam pembelajaran dibedakan menjadi 2 yaitu gaya kognitif field independent dan gaya kognitif field dependent.

 

13.      Bab XIII “Memperkuat Nilai Pendidikan IPS Melalui Integrated Knowledge System”

Pada bab XIII ini dibahas tentang cara untuk memperkuat nilai IPS melalui sistem pengetahuan yang terintegrasi. Dikatakan bahwa pendidikan IPS (PIPS) harus mampu memerankan dirinya sebagai media pembangunan dan pembentukanpeserta didik sebagai warga Negara yang baik dan berkualitas. Kemudian dibahas pula mengenai konsepsi antara pendidikanIPS dimana IPS  tersebut dikatakan terdiri dari dua konsepsi antara lain, konsepsi ilmu dan pendidikan IPS, untuk dapat mengetahui konsepsi tersebut, dalam buku ini telah dibedah secara baik agar dapat dimengerti dengan baik.Sehingga didapatkan ada lima poin yang perlu mendapat perhatian,antara lain pendidikan sebagai 1) usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik, 2) kegiatan bimbingan, 3) kegiatan pengajaran, 4) kegiatan pelatihan dan, 5) peran peserta didik. Selanjutnya dibahas mengenai pendidikan IPS, disiplin ilmu-ilmu sosial, dan kemajuan IPTEK. Kemajuan IPTEK yang telah yang menghadirkan warna terdiri dalam esensi PIPS sebagai disiplin keilmuan.

 

14.      Bab XIV “Inovasi Pembelajaran IPS”

Pada bab ini dibahas mengenai inovasi dalam konteks keharusan. Dimana inovasi pendidikan akan sangat baik jika dilakukan oleh ujung tombak keberhasilan pendidikan itu sendiri, yaitu guru. Bab ini juga menjelaskan bahwa seorang guru harus mampu melakukan berbagai variasi pembelajaran, sesuai dengan karakteristik, materi, kebutuhan belajar peserta didik, lingkungan belajar, dan target pencapaian dari pembelajaran itu sendiri, dan untuk mencapai hal tersebut salah satu kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi inovatif. Pentingnya sebuah inovasi dalam pembelajaran, permasalahan yang akan timbul jika tidak dilakukan inovasi pembelajaran.

 

15.      Bab XV “Pembelajaran IPS Dan Pembangunan SDM Prima”

Pada sub bab terakhir ini dijelaskan bahwa disajikan rasional pentingnya belajar dan menuntut ilmu pengetahuan sesuai dengan tujuan yang termuat dalam konstitusi negara Indonesia. Juga diulas mengenai sistem pendidikan, dimana sistem pendidikan nasional harus mampu mengakomodasikan aspek-aspek religio mental yang berbasiskan nilai-nilai keagamaan dan nilai budaya bangsa. Dalam rangka mengoptimalkan konsepsi sistem pendidikan nasional, kran partisipasi masyarakat harus dibuka lebar mulai dari penyusunan kurikulum hingga pelaksanaan pembelajaran di masing-masing jenjang sekolah. Setelah adanya konsep, tentu akan ada aplikasinya. Disini dijelaskan, dalam aplikasinya sistem pendidikan nasional kurang berhasil, yang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu aspek akademik, aspek religio mental dan aspek ketenagakerjaan.

 

C.        Komentar Penulis

Berdasarkan penjelasan singkat dari setiap sub bab mengenai buku Pendidikan IPS, penulis memberikan beberapa komentar, diantaranya:

1.         Secara teoritis, isi buku ini dapat dipahami dengan baik karena penyusunan katanya yang cukup jelas dalam menyampaikan suatu gagasan atau ide.

2.         Secara umum, dalam pengembangan pembelajaran pendidikan IPS di SD, diperlukannya peran dari guru maupun siswa, agar apa yang menjadi tujuan Pendidikan IPS dapat tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran ditulis oleh Prof. Dr. Sapriya, M.Ed.

 

A.        Hakikat Pendidikan IPS

Hakikat Pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) adalah kajian tentang manusia dan lingkungannya dimana kehidupan manusia merupakan suatu dinamika yang tidak pernah berhenti dan selalu aktif. Dinamika yang menggabungkan manusia dengan sesamanya dan dengan lingkungannya sebagai ungkapan jiwa bahwa manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan juga sebagai makhluk sosial.

Pada dasarnya, hakikat manusia itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis, melainkan juga sebagai makhluk yang berinteraksi dengan aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut menghasilkan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan berkembang menjadi disiplin ilmu sesuai dengan perkembangan masyarakat seperti ilmu ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, dan sebagainya.

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia harus menghadapi tantangan-tantangan yang berasal dari lingkungannya maupun sebagai hidup bersama. Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) melihat bagaimana manusia hidup bersama dengan sesamanya, dengan tetangganya dari lingkungan dekat sampai yang jauh. Bagaimana keserasian hidup dengan lingkungannya baik dengan sesama manusia maupun lingkungan alamnya. Bagaimana mereka melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain bahan kajian atau bahan belajar IPS adalah manusia dan lingkungannya sebagai hakikat pendidikan IPS.

 

B.        IPS dan Ilmu Sosial

Pengertian Ilmu Sosial (IPS). Istilah IPS di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1970-an sebagai hasil kesepakatan komunitas akademik dan secra formal mulai digunakan dalam sistem pendidikan nasional dalam kurikulum 1975. Dalam dokumen kurikulum tersebut ips merupakan salah satu nama mata pelajaran yang diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengh. Mata pelajaran IPS merupakan sebuah nama mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya.

IPS sebagai bidang studi memiliki garapan yang dipelajari cukup luas.Bidang garapannya itu meliputi gejalag–gejala dan masalah kehidupan manusia di masyarakat.Tekanan yang dipelajari IPS berkenaan dengan gejala dan maslah kehidupan masyarakat bukan pada teori dan ilmuannya, melainkan pada kenyataan kehidupan kemasyarakatan.Dari gejala dan masalah sosial tadi telah ditelaah, dianalisis faktor-faktornya sehingga dapat dirumuskan jalan pemecahannya.

Untuk lebih memahami Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial menurut para Ahli sebagi sberikut :

1.         Somantri menyatakan IPS adalah penyederhanaan atau disiplin ilmu ilmu sosial humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

2.         Mulyono Tj. (1980:8)berpendapat bahwa IPS adalah suatu pendekatan interdisipliner (inter-disciplinary approach) dari pelajaran ilmu-ilmu soial, seperti sosiologi antropologi budaya, psikologi sosial,sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan sebagainya.

3.         Saidiharjo (1996:4)  menyatakan bahwa IPS merupakan kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti:geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, politik.

4.         Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.

5.         Nu’man Soemantri menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti:

a.         Menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah dasar dan lanjutan,

b.         Mempertautkan dan memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.

6.         S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah,ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.

7.         Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah sekolah.

Dalam bidang pengetahuan sosial terutama di negara-negara yang berbahasa inggris dikenal dua istilah, yakni Social Sciences atau ilmu sosial dan Social Studies atau Studi Sosial. Jika kedua istilah ini dihadapakan satu sama lain secara sepintas kita akan melihat perbedaan dan persamaannya.

Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertaraf akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruantinggi, makin lanjut makin ilmiah”.

Menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.

Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosialadalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

Dari ketiga pendapat tokoh di atas dapat kami simpulkan bahwa Ilmu Sosial merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia baik dalam individu maupun berkelompok dan terdiri dari disiplin-disiplin ilmu yang bertaraf akademis. Istilah social studies  mulai di kenal di Amerika Serikat sekitar tagun 1913. Nama ini secara resmi dipergunakan oleh suati komisi pendidikan.Yaitu social studies committee of the commission of the Reorganization of secondary education (engle, 1971).Komisi ini bertugas untuk merumuskan dan membina kurikulum sekolah untuk mata pelajaran sejarah dan geografi dan komisi inilah yang memberikan nama resmi kepada kurikulum sekolah untuk kedua mata pelajaran tersebut. Dengan demikian, mulailah namasocial studies secara resmi dipergunakan untuk kurikulum sekolah yang materi pokoknya pada waktu itu ialah sejarah dan geografi (Skreeting dan Sundeen, 1969).

Pengertian social studies atau studi sosial ini oleh para ahli banyak yang memberikan batasan, namun untuk memberikan gambaran tentang pengertian studi sosial (jaromilek, 1977) mengisyaratkan bahwa studi sosial lebih bersifat praktis, yaitu memberikan kemampuan kepada anak didik dalam mengelola dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial dalam menciptakan kehidupan yang serasi. Studi sosial ini juga mempersiapkan anak didik untuk mampu memecahkan masalah sosial dan memiliki keyakinan akan kehidupan masa mendatang.

A. Sanusi (1971) mengngkapkan pengertian studi sosial bertaraf akademik-universitas, bahkan dapat merupakan bahan-bahan pelajaran bagi anak didik sejak pendidikan dasar dan dapat bersungsi sebagai pengantar bagi lanjutan kepada disiplindisplin ilmu sosial. Studi sosial bersifat interdisipliner, dengan menetapkan pilihan judul atau masalah-masalah tertentu berdasarkan sesutau rangka referensi dan meninjau dari beberapa sudut pandang sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu sama lain. A. Sanusi (1971) melihat perbedaan anatar ilmu sosial dengan studi sosial berkenaan dengan tempat diajarkan dan dipelajarinya. Jika ilmu sosial hanya diajarkan di Perguruan Tinggi, sedangkan studi sosial diajarkan dan dipelajari sejak dari pendidikan rendah/SD-SMA. Artinya kalau ilmu sosial menitikneratkan kepada teori dan konsep keilmuannya maka studi sosial lebih menitikberatkan pada masalah-masalah yang dapat dibahas dengan meninjau berbagai sudut yang ada hubungannya satu sama lain.

Pengertian Ilmu-Ilmu Sosial. Berbeda dengan IPS atau social studies, istilah ilmu-ilmu sosial (IIS) adalah terjemahan dari social sciences.Disamping ilmu-ilmu sosial terdapat pula ilmu-ilmu alam (sciences) dan humanitis/humaniora.Ilmu-ilmu alam mempunyai tiga bagian disiplin ilmu utama yang meliputi biologi, fisika, dan kimia.Sementara humanities terdiri, antara lain, sejarah dan sastra.Semua bidang keilmuan dan humaniora ini berakar pada suatu bidang yang disebut filsafat.Setiap disiplin ilmu mempunyai filsafatnya masing-masingbyang pada akhirnya semua disiplin itu berhulu pada ajaran agama.

Dalam struktur disiplin ilmu bsik, ilmu-ilmu sosial maupun ilmu pendidikan, belum ditemukan adanya namasocial studies ataupun pendidikan IPS sebagai subdisiplin ilmu. Hal ini mungkin terjadi karena social studies adalah sebuah program pendidikan dan bukan subdisiplin ilmu (Somantri, 2001:89). Namun demikian, sampai saat iniperan ilmu-ilmu sosial tetap menjadi konten utama untuk untuk  social studies atau PIPS.pembahasan pada bagian ini secara khusus difokuskan pada disiplin ilmu-ilmusosial terutama yang memberikan kontribusi pada pengembangan program social studies. Ada beberapa pengertian ilmu-ilmu sosial yang dikemukakan oleh para ahli.Norman MacKenzie (1966:7), misalnya merumuskan disiplin ilmu sosial sebagai “all the academic disciplines which deal with men in their social context”, artinya semua disiplin akademik yang berkaitan dengan manusia dalam konteks sosial.Bernard Mausner (1979:1) menegaskan bahwa “yhe social sciences represent yet another attempt to solve the puzzles inherent in the situation of man in society.” Harold Kincaid (1996:6) mengemukakan “Social science should describe how institutions relate to and influence one another, how social structure develop and change, and how those institutions and structures influence the fate of individuals.”

Nurman Somantri (2001) mengidentifikasi sejumlah karakteristik dari ilmu-ilmu sosial sebagai berikut.

a.         Berbagai batang tubuh (body of knowledge) disiplin ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan secara sistematis dan ilmiah.

b.         Batang tubuh disiplin itu berisikan sejumlah teori dan generalisasi yang handal dan kuat sera dapat diuji tingkat kebenarannya.

c.         Batang tubuh disiplin ilmu-ilmu sosial ini disebut juga structure disiplin ilm, atau ada juga yang menyebutnya dengan fundamental ideas.

d.         Teori dan generalisasi dalam struktur itu disebut pula pengetahuan ilmiah yang dicapai lewat pendekatan “conceptual” dan “syntactic”, yaitu lewat proses bertanya, berhipotesis, pengumpulan data. (observasidan eksperimen).

e.         Setiap teori dan generalisasi ini terus dikembangkan, dikoreksi, dan diperbaiki untuk membantu dan menerangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan serta membantu memecahkan masalah-masalah sosila melalui, sikap dan tindakan terbaik.

 

Selain mengkaji perilaku manusia, disiplin ilmu-ilmu sosila memandang situasi peristiwa umat manusia dari perspektif yang agak berbeda dan unik.Karena ada perbedaan persepsi maka metodologi dan teknik penelitiannya pun berbeda. Setiap disiplin ilmu sosial memilki konsep-konsep, generalisasi dan teori yang dapat memeberikan kontribusi dalam penyusunan disain maupun dalam pelaksanaan proses belajar mengajar IPS pada sekolah dasar dan menengah. Para ahli ilmu-ilmu sosial telah memerinci sekitar 8 disiplin ilmu sosial yang mendukung untuk pengembangan program social studies yang meliputi antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, filsafat, ilmu politik, psikologi dan sosiologi. Pada hakikatnya, semua disiplin ilmu sosial tersebut memilki objek kajian yang sama, yakni manusia.

a.         Antropologi

Para ahli antropologi mempelajari tentang budaya manusia.Mereka tertarik dengan kebudayaan prasejarah (kebudayaan yang diciptakan sebelum lahirnya zaman sejarah) juga kebudayaan pada zaman modern saat ini.Mereka mengkaji kebudayaan pada semua tingkat perkembangan teknologi.Dari zaman berburu dan zaman pengumpulan makanan (food gathering) sampai zaman bercocok tanam dan zaman indrusti.

Para ahli antropologi dapat dibedakan ke dalam beberapa spesialisasi.Pertama, ahli antropologi sosial (antropologi budaya) mempelajari tentang kelompok-kelompok manusia yang ada saat ini yang menggunakan cara hidup (misalnya budaya) tertentu. Mereka dapat mengkaji budaya manusia tertentu dengan cara mempelajari bagaimana bagian-bagian budaya itu bisa cocok dalam membentuk keseluruhan budaya manusia yang bermakna, atau mereka dapat memilih dan mempelajari sejumlah kebudayaan berdasarkan pola-pola perilaku untuk mendapatkan “perspektif antarbudaya” tentang kondisi manusia. Kedua, ahli etnografi adalah seorang ahli antropologi yang punya spesialisasi dalam mengumpulkan informasi tentang segala aspek budaya yang ada melalui kerja lapangan.Ketiga, ahli antropologi bahasa mempelajari bahasa-bahasa yang digunkan manusia degngan fokus kajian pada penggunaan bahasa dalam konteks sosial.

b.         Geografi

Geografi mempelajari permukaan bumi dan bagaimana manusia memengaruhi serta dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Geografi dibagi ke dalam dua spesialisasi pokok : geografi fisik dan geografi budaya (manusia). Dijelasakn bahwa geografi fisik adalah cabang ilmu pengetahuan alam yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan studi tentang proses dan pola dalam lingkungan alam seperti atmosfer, biosfer,  dan hidrosfer. Geografi fisik berlawanan dengan geografi manusia.Geografi budaya (manusia) diartikan bahwa cabang geografi yang objek kajiannya keruangan manusia. Maksutnya geografi budaya yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita amati atau kunjungi (Ekblaw dan Mulkeene). Geografi budaya dipelajari karena adanya masalah budaya, kkhususnya hubungan antara pertumbuhan penduduk, konsumsi sumber daya, dan peningkatan intensitas masalah akibat eksploitasi sumber daya yang berlebihan. Dengank ata lain bahwa geografi budaya dapat memberikan kombinasi yang kuat perangkat konseptual untuk memahamu budaya yang kompleks.

c.         Sejarah

Sejrah adalah studi tentang kehidupan manusia du masa lampau. Para sejarahwan tertarik dengan semua aspek kegiatan manusia di masa lampau : politik, hokum, militer, sosial, keagamaan, kreativitas (seperti yang berkaitan dengan seni, musik, arsitektur islam, literature), keilmuan dan intelektual. Seoarang sejahrawan mungkin mengkhusukan pada satu atau lebih dari aspek-aspek kegiatan manusia (sosial, militer; seni); pada sejarh negara tertentu atau wilaya geografis (Amerika Serikat, Afrika, Asia Tenggara, Timur Tengah); pada periode wakttu tertentu (Abad Pertengahan, Zaman Keemasan Yunani, Zaman Kejayaan Islam, Abad Nuklir, Abad Informasi); pada peristiwa-peristiwa penting (perang Diponegoro, Perng Kemerdekaan Indonesia, Perang Saudara di Amerika Serikat, Kelaparan di afrika, Revolusi Indrusti); atau kepribadian orang terkemuka (Bung Karno, Bung Hatta, Julius Caesar, Mahatma Gandhi, Elearno Roosevelt, Martin Luther King r.)

d.         Ilmu Politik

Para ilmuwan politik mempelajari kebijakan umum (public policies).Mereka tertarik dengan perkembangan dan penggunaan kekuasaan manusia di dalam masyrakat, khususnya yang tercermin dalam pemerintahan.Pada saat ini, para ilmuwan politik telah memperluas perhatiannya dengan memasukakan hubungan antara kebijakan umum dan masyarakat.

Bidanng khusus ilmunpolitik meliputi pusat perhatiannya tentang  tingkatan pemerintahan (atau organisasi politik lainnya) atau berbagai fungsi pemerintahan. Bidang-bidang perhatian khusus yang didasarkan ada tingkatan pemerintahan meliputi negara dan pemerintahan daerah, pemerintahan pusat(nasional), hubungan internasional (politik internasional). Pada setiap pemerintahan, para ilmuwan politik bisa mengkhususkan lagi misalnya, pada wsatu bentuk pemerintahan nasional, seperti monarkhi, dictator atau demokrasi.

e.         Psikologi

Para ahli psikologi mempelajari perilaku individu-individu dan kelompok-kelompok kecil individu. Disiplin ini terkadang didefinisikan untuk meliputi semua bentuk perilaku : manusia dan bukan manusia, manusia normal dan abnormal, individu dan kelompok, fisik dan mental, dan secara instink maupun dengan cara dipelajari. Secara tradisi, para ahli psikologi telah mempelajari tentang belajar, pertumbuhan dan perkembangan, berfikir, perasaan, perilaku kelompok, perkembangan kepribadian, dan perilaku abnormal.

f.          Sosiologi

Ahli sosiologi mempelajari perilaku manusia dalam kelompok-kelompok.Perhatian utamanya adalah dalam hubungan sosial manusia perilaku manusia seperti diwujudkan sendiri dalam perkembangan dan fungsi dari kelompok dan institusi.Keompok-kelompok dapat mencakup kelompok yang terjadi secara ilmiah seperti keluarga, para pekerja dalam organisasi, atau gerakan kerusuhan atau kelompok-kelompok yang dibentuk untuk tujuan mengadakan penelitian ilmiah”di dalam laboratorium” (seperti kelompok pengambilan keputusan atau pemecahan masalah).Institusi-institusi  kepentingan umumnya mencakup sekolah-sekolah, media masa, kelas-kelas sosial, organisasi perusahaan, dan penjara-penjara. Perhatian para sosiologi meliputi pula bagaimana kelompok-kelompok dan institusi-institusi berinteraksi. Para ahli sosiolagi bisa mengkhususkn dalam beberapa bidang, seperti keluarga, kriminologi, komunikasi, pendapatan umum, organisasi yang ko pleks, hubungan ras dan etnik, peranan jenis kelamin, demografi (kependudukan).pendidikan, perilaku kelompok kecil, stratifikasi sosial, sosiologi medis, dan sosiologi bidang pekerjaan atau profesi.

g.         Ekonomi

Berikut ini adalah pengertian Ilmu Ekonomi menurut para ahli :

1.         Paul A. Samuelsonmenyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang cara orang-orang dan masyarakat membuat pilihan, dengan atau tanpa menggunakan uang, dalam menggunakan sumber daya produksi yang terbatas tetapi dapat dipergunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis komoditas dari waktu ke waktu dan mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi saat ini atau di masa datang, kepada berbagai orang atau kelompok dalam masyarakat.

2.         Adam Smith mengatakan bahwa ilmu ekonomi ialah penyelidikan tentang keadaan dan sebab adanya kekayaan negara.

3.         J.B. Say menyatakan bahwa ilmu sebagai suatu kajian  tentang peraturan yang bisa menentukan kekayaan.

 

C.        Pengertian Pendidikan IPS dalam Konteks Indonesia

Pendidikan IPS di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dokumen Kurikulum 1975 yang memuat IPS sebagai mata pelajaran untuk pendidikan di sekolah dasar menengah.Gagasan IPS di Indonesia pun banyak mengadopsi dan mengadaptasi dari sejumlah pemikiran perkembangan Social Studies yang terjadi di luar negeri terutama perkembangan pada NCSS sebagai organisasi professional yang cukup besar pengaruhnya dalam memajukan social studies bahkan sudah mampu mempengaruhi pemerintah dalam menentukan kebijakan kurikulum persekolahan.

Pengertian PIPS di Indonesia sebagaimana yang terjadi di sejumlah negara pada umumnya masih dipersepsikan secara beragam. Namun, definisi yang sudah lama dirumuskan sebagai hasil adobsi dan adaptasi dari gagasan global reformers adalah definisi Prof. Nu’man Somantri yang dikemukakan dalam Forum Komunikasi II Himpunan Sarjana pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia, disingkat HISPIPSI (sekarang berubah menjadi Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu –Ilmu Sosial Indonesia, disingkat HISIPISI). Somantri mendefinisikan Pendidkan IPS dalam dua jenis, yakni Pendidikan IPS untuk persekolahan da Pendidikan IPS untuk perguruan tinggi sebagai berikut.

Pendidkan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.(Somantri, 2001:92).

Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.(Somantri, 2001:92).

Pengertian Pendidikan IPS yang pertma berlaku untuk pendidikan dasar dan menengah sedangkan yang kedua berlaku untuk perguruan tinggi.Perbedaan dari dua definisi ini terletak pada istilah “penyederhanaan” untuk pendidkan dasar dan menengah dan sedangkan untuk perguruan tinggi ada istilah “selesksi”. Menurut Somantri, istilah penyederhaan digunakan pada PIPS pendidkan dasar dan menengah dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tingkat kesukaran bahan harus sesuai dengan tingkat kecerdasan dan minat peserta didik sedangkan tingkat kesukaran untuk perguruan tinggi adalah sama sengan tingkat kesukaran perguruan tinggi.

Adanya pembedadefinisi PIPS di Indonesia ini berimplikasi bahwa PIPS dapat dibedakan atas dua, yakni PIPS sebagai mata pelajaran dan PIPS sebagai kajian akademik. PIPS sebagai mata pelajaran terdapat salam kurikulum sekolah mulai tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah ( SMP/MTs dan SMA/MA/SMK). PIPS pada kurikulum sekolah (satuan pendidikan), pada hakekatnya merupakan mata pelajaran wajib sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional pasal 39.

PIPS untuk tingkat sekolah sangat erat kaitannya dengan disiplim ilmu-ilmu sosial yan terintegrasi dengan humaniora dan ilmu pengetahuan alam yang dikemas secara ilmiah dan pedagogis untuk kepentingan pembelajaran di sekolah.Oleh karena itu IPS di tingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values).Yang dapat digunakan sebagai kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemsyarakatan agar menjadi warga negara yang baik.

PIPS sebagai kajian akademik disebut juga IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu adalah PIPS sebagai seleksi dan integrasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan disiplin ilmu yang relavan,dikemas secara psikologis, ilmiah, pedagogis dan sosial-kultural untuk tujuan pendidikan. Artunya, berbagai tradisi dalam ilmu sosial termasuk konsep, struktur, cara kerja ilmuwan sosial, aspek metode maupun aspek nilai yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial, dikemas secara psikologis, ilmiah, pedagogis, dan sosial-kultural untuk kepentingan pendidikan. Untuk memahami masalah PIPS seseorang hendaknya memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin ilmu-ilmu sosial yang meliputi struktur, ide fundamental, pertanyaan pokok (mode of iquiry), metode yang digunakan dan konsep-konsep setiap disiplin ilmu, disamping pemahamannya tentang prinsip-prinsip kependidikan dan psikologi serta permasalahn sosial.

 

D.        Perbedaan IPS dan Ilmi-Ilmu Sosial

Dibawah ini akan diuraikan perbadaan IPS,baik sebagai mata pelajaran yang diajarkan di tingkat sekolah (SD sampai sekolah menengah) maupun sebagai kajian akademik yang diberikan di tingkat universitas khususnya di LPTK dengan Ilmu-Ilmu Social (Ilmu Murni yang diajarkan di universitas).

Antara  IPS  (Social Studies) dengan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences) mempunyai hubungan yang sangat erat, karena keduanya sama-sama mempelajari dan mengkaji hubungan timbale balik antar manusia (human relationships).

IPS merupakan Pengetahuan terapan yang dilaksanakan dalam kegiatan instuksional di sekolah-sekolah guna mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tertentu,antara lain untuk mengembangkan kepekaan anak didik terhadap kehidupan Sosial di sekitarnya. IPS bukan Ilmu, karena itu IPS tidak menemukan pengetahuan-pengetahuan baru, konsep-konsep baru maupun teori-teori baru malainkan memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan,konsep, dan teori-teori yang telah dikembangkan oleh berbagai disiplin Ilmu Sosial.

Setiap disiplin Ilmu memiliki strukturnya masing-masing yang membedakan antara Ilmu yang satu dengan yang lain. Menurut Jerome S.Bruner, struktur ilmu menyangkut saling hubungan antara ide-ide dasar dari disiplin Ilmu yang  bersangkutan dan memiliki dua dimensi, yaitu:

1.         Dimensikonsepsional,meliputi konsep-konsep tertentu, prinsip-prinsip,generalisasi,pengertian, dan ide-ide yang mendasari disiplin Ilmu tersebut.

2.         Dimensi metodologis, meliputi pengorganisasian, metode penelitian, pendekatan, yang ditentukan oleh disiplin Ilmu yang bersangkutan.

Hubungan Ilmu Pengetahuan Sosial denga Ilmu-Ilmu Sosial adalah: bahwa Ilmu pengetahuan sosial bersumber pada Ilmu-Ilmu Sosisl. Atau dapat dikatakan ilmu pengetahuan sosial mengambil bahannya dari ilmu-ilmu sosial baik berupa konsep,pengetahuan maupun teori. Ilmu-ilmu sosial yang perlukan dalam rangka pengajaran ilmu pengetahuan sosial terbatas pada ilmu-ilmu yang di anggap sesuai dengan pengetahuan dan perkembangan anak didik.Tidak semua ilmu-ilmu sosial di turunkan kedalam ilmu pengetahuan sosial, tergantung pada tingkat pendidikan dan tingkat kematangan berfikir siswa.

 

 

E.        Tujuan Pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial (IPS)

Tujuan pendidikan IPS tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan berdasarkan pada falsafah negara Pancasila dan UUD 1945, yaitu:

Berdasarkan pada falsafah negara tersebut, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, yaitu: membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional di atas, maka tujuan pendidikan di atas harus dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi siswa. Beberapa pendapat yang berkaitan dengan tujuan pendidikan IPS, yaitu: Kurikulum 2004 (tingkat SD) menyatakan bahwa, Pengetahuan Sosial  bertujuan untuk: mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis. mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.

Tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”

Tujuan pendidikan IPS menurut (Oemar Hamalik. 1992)merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan.

IPS juga bertujuan untuk mengembangkan sikap belajar yang baik. Artinya dengan belajar IPS anak memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) untuk menemukan ide-ide, konsep-konsep baru sehingga mereka mampu melakukan perspektif untuk masa yang akan datang. Sikap belajar tersebut diarahkan pada pengembangan motivasi untuk mengetahui, berimajinasi, minat belajar, kemampuan merumuskan masalah, dan hipotesis pemecahannya, keinginan melanjutkan eksplorasi IPS sampai ke luar kelas, dan kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan data.

Salah satu fungsi pengajaran IPS adalah mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak. Selain itu juga mengembangkan rasa kontinuitas dan stabilitas, memberikan informasi dan teknik-teknik sehingga mereka dapat ikut memajukan masyarakat sekitarnya. Sebagai contohnya tradisi dan nilai-nilai dalam masyarakat, kebudayaan dari berbagai lingkungan serta pengaruhnya terhadap hubungan dengan warga masyarakat lainnya, pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber ekonomi oleh masyarakat.

 

F.        Pendidikan Global

Bukan rahasia lagi kalau saat ini dunia sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam  berbagai bidang dan aspek kehidupan masyarakat dan negara. Batas-batas teritorial antarnegara yang sebelumnya menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam konteks hubungan antarbangsa dan negara, kini hal itu tidak menjadi kendala yang berarti. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam eskalasi yang tinggi terutama teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi telah menyebabkan batas-batas atau sekat-sekat geografis antarnegara dan bangsa seolah tak nampak lagi. Pantas, kalau banyak pihak mengatakan bahwa kecenderungan kehidupan bangsa dan negara saat ini mengarah kepada terbentuknya suatu masyarakat global (global village).

Marshall McLuhan mengkonseptualisasikan “global village” yang dimaknai sebagai sebuah proses homogenisasi jagat sebagai akibat dari kesuksesan sistem komunikasi secara keseluruhan. Saat ini, betapa mudahnya orang melakukan komunikasi jarak jauh, tidak hanya antarkota melainkan antarnegara yang lokasinya sangat berjauhan. Bahkan, saat ini tidak jarang para petinggi negara mengadakan pertemuan dengan staf pembantunya (misalnya menteri) melalui teleconference atau konferensi jarak jauh dengan maksud untuk memantau keadaan atau situasi dalam negeri, baik keadaan politik maupun ekonomi, dan sebagainya. Demikian pula, komunikasi dapat dilakukan melalui media internet yang dalam waktu yang relatif singkat, dapat diperoleh informasi atau berita-berita.

Pendidikan Global adalah upaya untuk menanamkan suatu pandangan (prespective) tentang dunia kepada siswa dengan memfokuskan bahwa terdapat saling keterkaitan antar budaya, umat manusia dan kondisi planet bumi. Tujuan pendidikan setiap mata pelajaran untuk kondisi saat ini menekankan pada kemampuan siswa dalam berfikir kritis, namun ada hal yang unik dalam pendidikan global, yakni fokus substansinya yang berasal dari hal-hal yang mendunia yang semakin bercirikan pluralisme. Tujuan pendidikan global adalah untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk hidup secara efektif dalam dunia yang sumber daya alamnya semakin menipis dan ditandai oleh keragaman etnis, pluralisme budaya dan semakin saling ketergantungan.

            Perlunya meningkatkan orientasi para siswa dalam wawasan internasional semakin disadari. Meskipun di wilayah Indonesia, upaya untuk meningkatkan dan memperluas pemahaman global pada lembaga pendidikan dasar dan menengah masih perlu diberdayakan. Kemajuan teknologi, perdagangan antarnegara, pertukaran budaya, pariwisata, kepedulian terhadap lingkungan, persaingan pasar, kelangkaan dalam sumber alam dan semakin kompleks. Adanya saling ketergantungan antar bangsa dan negara menimbulkan bentuk-bentuk kerjasama di segala bidang yang sekaligus pula menimbulkan berbagai persaingan dan konflik. Misalnya; kerja sama di bidang ekonomi telah menciptakan model-model blok-blok ekonomi negara-negara seperti Eropa berdiri Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), di Asia Pasifik berdiri APEC. Akibat dari perkembangan dalam teknologi yang diiringi pula oleh munculnya permasalahan, sedikit demi sedikit, disadari ataupun tidak telah menimbulkan adanya kontak singgungan budaya antarbangsa.

Peristiwa atau proses kejadian di atas dinamakan proses globalisasi yang berpengaruh pula Dengan Proses Pendidikan. The American Association Of Colleges For The Teacher Education (AACTE,1994) mengemukakn bahwa ‘globalization is said to necesssiate changes in teaching, such as more attention to diserve and universal human values global sistem, global issues, involment of different kinds of world actors, and global history.

National Council for the Sosial Studies (NCSS,1982) mengemukakan beberapa gejala atau fenemona proses globalisasi sebagai berikut:

1.         Adanya evolusi dalam sistem komunikasi dan transportasi global.

2.         Penggabungan perekonomian lokal, regional dan nasional menjadi perekonomian global.

3.         Meningkatnya intensitas interaksi antar masyarakat yang menciptakan budaya global sebagai panduan dari budaya lokal, regional dan nasional yang beragam.

4.         Munculnya sistem international yang mengikis batas-batas tradisi politik internasioanal dan politik nasional.

5.         Meningkatkan dampak aktifitas manusia terhadap ekosistem di bumi.

6.         Meningkatnya kesadaran global yang menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia di bumi sebagai anggota makhluk manusia, sebagai penduduk di bumi dan sebagai anggota dalam sistem global.

Pandangan suatu bangsa atau negara yang berpaling dari pandangan global hanya akan membuat negara atau bangsa itu terisolir maka dari itu globalisasi telah menuntut setiap warga dunia untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menghadapi persaingan. Kali ini dalam materi Pendidikan IPS sendiri Pendidikan Global mengkaji beberapa hal yakni: 1). Kajian tentang Nilai-nilai manusia, 2). Kajian tentang sistem global, 3). Kajian tentang masalah-masalah dan isu-isu global, 4). Kajian sejarah hubungan antarbangsa

 

G.        Model Pembelajaran IPS

Model Pembelajaran IPS ialah sebagai desain pembelajaran inkuiri (inquiry approach). Yaitu sebagai sebuah metode mengajar yang berorientasi pada latihan meneliti dan mempertanyakan, istilah ini sejajar dengan metode pemecahan masalah, berfikir reflektif dan atau “discovery” (Hagen, 1969)

Welton dan Mallan (1988) membandingkan istilah “inquiry” dengan metode pemecahan masalah (problem solving) dan bahkan dengan hapalan/memori sebagai suatu perilaku dan proses. Dalam konteks ini, masalah atau untuk memproses informasi.

Beyer (1971) menyatakan bahwa “inquiry is one way of knowing” –suatu cara untuk mengetahui lebih lanjut, apabila orang terkait dalam proses investigasi, berusaha menjawab pertanyaan, dan berusaha memecahkan masalah secara berkelanjutan, maka orang-orang ini telah melakukan proses inkuiri.

Jhon Dewey (1859-1952) menyatakan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pengajaran telah menjadi obsesi. Inkuiri merupakan salah satu pendekatan yang saat ini digunakan oleh para pengembang kurikulum khususnya di sekolah-sekolah Australia dan Amerika Serikat sebagai suatu pendekatan dalam proses belajar-mengajar dipersekolahan.

Menurut para ahli, pendekatan inkuiri merupakan upaya yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah kebosanan siswa dalam belajar di kelas. Pendekatan ini cukup ampuh karena proses belajar lebih terpusat kepada siswa (student-centred instruction) daripada kepada guru (teacher-centred instruction).

Wesley (1950) menyatakan bahwa guru yang baik haruslah memiliki metode yang baik, dan guru yang terbaik ditentukan oleh metode yang dikuasainya. Lebih jauh, Wesley menyatakan bahwa metode yang baik memerlukan sikap guru yang akurat, artistik, berkepribadian dan selalu menyesuaikan dengan tingkat pengalaman siswa.

Banks (1990) mengemukakan pendekatan mengajar dalam IPS dengan menggunakan inkuiri sosial untuk menghasilkan fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Namun tujuan utama inkuiri sosial menurutnya adalah untuk membangun teori. Teori dapat digunakan untuk memamhami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol perilaku masyarakat. Selain itu, tujuan inkuiri sosial pun diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-sosial.

Langkah-langkah model pembelajaran ingkuiri untuk kelas IPS yang dikemukakanBanks adalah sebagai berikut :

Pertama, Perumusan masalah (Problem Formulation), Kedua,Perumusan Hipotesa (Formulation of Hypotheses), Ketiga, Definisi Istilah: Konseptualisasi, Keempat, Pengumpulan data (Collection of Data), Kelima, Pengujian dan Analisi Data (Evaluation and Analysis of Data), Keenam, Menguji hipotesis untuk memperoleh generalisasi dan teori

Ketujuh, Memulai inkuiri lagi.

 

Model atau desain Pembelajaran Keterampi lan berpikir (thinking skills) ada 2 model, yaitu: Critical thinking skills atau ketera mpilan berpikir kritis. Menurut Johnson (1991), merumuskan istilah berpikir kritis (critical thinking) secara etimologi menyatakan bahwa kata “critic” dan “critical” berasal dari “krenein” yang berarti menaksir nilai sesuatu. Ia menjelaskan bahwa kritik adalah perbuatan seorang yang mempertimbangkan, menghargai dan menaksir nilai sesuatu hal. Tugas seorang berpikir kritis sdalah menerapkan norma dan standar yang tepat terhadap sesuatu hasil. The Group of Five (Etnis 1989; Lip man 1988; Siegel 1988; Paul 1989; McPeck 1981), menyimpulkan bahwa ada tiga persetujuan subtansi dari kemampuan berpikir kritik Yaitu berpikir kritis memerlukan sejumlah kemampuan kognitif, berpikir kritis memerlukan sejumlah informasi dan pengetahuan, berpikir kritis mencakup dimensi afektif yang semuanya menjelaskan dan menekankan secara berbeda-beda. Sedangkan berpikir kritis adalah untuk menilai suatu pemikiran, menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan atau praktek dari suatu pemikiran dan nilai tersebut. Selain itu, berpikir kritis meliputi aktivitas mempertimbangkan berdasarkan pada pendapat yang diketahui. Menurut Lipman (1988), layaknya pertimbangan-pertimbangan ini hendaknya didukung oleh criteria yang dapat dipertanggung jawabkan.

 

Creative thinking atau ketrampilan berpikirkreatif.

Menurut Savage And Amstrong (1996), syarat untuk memasuki sikap berpikir kritis adalah sikap siswa memunculkan ide-ide atau pemikiran baru; siswa membuat pertimbangan dan penilaian atau taksiran berdasarkan kreteria yang dapat dipertanggungjawabkan. Preston Dan Herman (1974), inkuiri dan ketrampilan berpikir kritis tumbuh subur di kelas III. Menurut (Wiken, 1995; Beyer, 1985; Fraenkel, 1980), Pengajaran berpikir kritis meliputi pendekatan, strategi, perencanaan, dan sikap siswa dalam berpikir kritis. Model Ini pernah dijelaskan oleh beliau pada studi sosial di Amerika Serikat.

Keterampilan berpikir kritis menurut Beyer ada 10, yaitu :

1.         Membedakan antara fakta dan nilai dari suatu pendapat.

2.         Menentukan reliabilitas sumber.

3.         Menentukan akurasi fakta dari suatu pertanyaan.

4.         Membedakan informasi.

5.         Mendeteksi penyimpangan.

6.         Mengindentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan.

7.         Mengindentifikasi tuntutan dan argumentasi yang tidak jelas.

8.         Mengakui perbuatan yang keliru dan konsisten.

9.         Membedakan antara pendapat yang tidak dan dapat dipertanggung jawabkan.

10.      Menentukan Kekuatan argument.

Menurut Beyer strategi berpikir kritis yang cukup efektif untuk Proses Belajar Mengajar (PBM), ialah Strategi innduktif yang bersifat direktif. Adapun langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru adalah :

Memperkenalkan ketrampilan ,dan kemudian siswa

Mencobakan ketrampilan sebaik mungkin,

Menggambarkan serta mengartikulasi apa yang terjadi dalam pikiran ketika menerapkan ketrampilan tersebut.

Menerapkan pengetahuan tentang ketrampilan baru untuk diterapkan lagi, dan akhirnya; Meninjau lagi apa yang terpikir ketika ketrampilan itu diterapkan, Menurut Beyer strategi berpikir kritis yang ke-2 adalah strategi direktif yang artinya memberikan kesempatan pada siswa untuk menguasai dan memahami betul komponen ketrampilan tersebut sejak permulaan. Strategi ini digunakan bila ketrampilan siswa agak kompleks. Dalam strategi ini memerlukan bimbingan khusus.

Beyer merumuskan ada 5 langkah dalam penerapan strategi direktif, yaitu

1.         Memperkenalkan ketrampilan berpikir kritis.

2.         Menjelaskan prosedur dan aturan ketrampilan.

3.         Menunjkan bagaimana ketrampilan itu digunakan di kemudian hari.

4.         Menerapkan ketrampilan tersebut mengikuti langkah dan aturan yang jelas.

5.         Menggambarkan tentang apa yang terjadi dalam pikiran siswa ketika ketrampilan itu diterapkan.

 

Implementasi Model-Model Pembelajaran IPS

Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah baik masalah pribadi maupun masalah sosial sangat diperlukan karena pada hakekatnya siswa hidup ditengah lingkungan masyarakat yang penuh dengan benih-benih munculnya masalah. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan untuk mendewasakan siswa, maka salah satu

indikator dewasa adalah kemampuan akan kemandirian sebagai warga masyarakat. Model pembelajaran “problem solving” pemecahan masalah merupakan alternative model pembeljaran dalam IPS.

 

 

Model pembelajaran “problem solving”.

Ada 4 tahapan proses pemecahan masalah menurut Savage dan Armstrong, yaitu :

1.         Mengenal adanya masalah.

2.         Mempertimbangkan pendekatan-pendekatan untuk pemecahannya.

3.         Memilih dan menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut.

4.         Mencapai solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan menurut wilkins (1990), menguraikan 6 langkah model pembelajaran “problem solving”, yaitu :

1.         Mengklarifikasikan dan mendefinisikan masalah.

2.         Mencari alternatif solusi.

3.         Menguji alternatif solusi.

4.         Memilih solusi.

5.         Bertindak sesuai dengan pilihan solusi.

6.         Tindak lanjut (follow-up).

Model “problem solving” inkuiri atau model pembelajaran penemuan.

Secara umum batasan yang tegas antara tiga pendekatan/ model pembelajaran tersebut belum ada kesepakatan. Persamaan dari ketiga model pembelajaran tersebut adalah semua mensyaratkan adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar melalui proses penelitian, yaitu meneliti hubungan antar sejumlah data/ informasi untuk tercapainya suatu solusi. Untuk mengatasi kerancuan, Welton and mallan (1988) mengemukakan bahwa penggunaan model pembelajaran “problem solving” agak berbeda bila diterapkan pada mata pelajaran yang berbeda.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbandingan Kurikulum IPS Indonesia - Perancis. Oleh Vigi Firawan

Landasan Teori Inti Pelaksanaan Pembelajaran